Unduh Aplikasi

Putra Gayo, Jadi Driver Grab untuk Biayai Pendidikan S3

Putra Gayo, Jadi Driver Grab untuk Biayai Pendidikan S3
Safutra Rantona

BANDA ACEH - Saputra Rantona (29), pemuda berprestasi dari Desa Kuala Satu Kecamatan Bintang Aceh Tengah ini harus menarik ojek online (Grab) untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan S3 nya di Universitas Padjadjaran Bandung.

Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini mulai menempuh pendidikan S3 Komunikasi di Universitas Padjajaran Bandung sejak 2018. Memenuhi kebutuhan kuliah dan kesehariannya di Bandung, Safutra diharuskan Grab.

Menurutnya, pekerjaan ini paling fleksibel dan dapat dilakukan kapan saja, sehingga tidak menganggu aktivitas perkuliahan.

Safutra mengatakan, sejuah ini ia masih menggunakan dana pribadi untuk membayar sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sebesar Rp 18 juta per semester. Bahkan tanah dan ternak orang tua juga sudah terjual guna menutupi kekurangan biaya kuliahnya.

"Sejauh ini sudah jual tanah dan ternak kerbau milik orang tua untuk membayar biaya kuliah saya," kata Safutra Rantona kepada AJNN, Sabtu (21/12).

Safutra sadar bahwa ngeGrab memang belum mencukupi beban kuliah dan kebutuhan ia sehari-hari. Namun, pekerjaan ini dirasa sangat membantunya menutupi kekurangan.

Menutupi kekurangan biaya kuliah, Safutra juga menyempatkan waktu mengajar sebagai dosen luar biasa di salah satu Perguruan Tinggi swasta di Bandung.

"Saya juga mengajar sebagai dosen luar biasa di kampus swasta di Bandung. Tapi belum cukup untuk membiayai kuliah, karena itu saya juga ngojek online agar kebutuhan terpenuhi, baik untuk hidup sehari-hari maupun biaya kuliah," ujarnya.

Bukan tidak berusaha mengejar beasiswa, Saputra mengaku sudah mengadu memohon bantuan kepada pemerintah, mulai dari kabupaten hingga provinsi. Namun, belum terkabulkan.

Awal tahun 2019, Safutra sudah berjumpa langsung dengan Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar. Tetapi ditolak mentah-mentah.

Bahkan, Safutra juga sudah pernah mengajukan permohonan beasiswa kepada Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Namun, usaha dirinya mendapatkan bantuan pemerintah belum terkabulkan hingga hari ini.

"Saya pernah mengajukan permohonan beasiswa ke Nova Iriansyah dan menghadap Bupati Aceh Tengah awal tahun 2019 lalu. Tapi belum diberikan," tutur Safutra.

Selama kuliah, kata Safutra, dirinya baru sekali mendapatkan beasiswa saat masih mengenyam pendidikan S2, yaitu dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI pada tahun 2015-2017.

Beasiswa itu didapatkannya sebagai masyarakat berprestasi atau pemuda antikorupsi.

Memang, saat masih menjadi mahasiswa S1 Unsyiah, Safutra aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, dan ia juga merupakan alumni Sekolah Anti Korupsi Aceh (SAKA) angkatan ke IV.

Selain kuliah dan bekerja, saat ini Safutra juga aktif dalam penulisan jurnal nasional maupun internasional. Kegiatan ini juga membutuhkan biaya yang cukup besar ketika melakukan penelitian.

"Ikut juga penulisan jurnal nasional maupun internasional. Perlu biaya besar juga kalau ada penelitian lapangan," tutur Safutra.

Komentar

Loading...