Unduh Aplikasi

Pupuk Bersubsidi di Pijay Diduga Dijual di Atas HET

Pupuk Bersubsidi di Pijay Diduga Dijual di Atas HET
Petani di Kecamatan Bandar Baru membawa pulang pupuk bersubsidi jenis urea dengan motornya yang dibeli di Kabupaten Pidie. Foto: AJNN/Muksalmina

PIDIE JAYA - Pupuk bersubsidi di Kabupaten Pidie Jaya yang baru beberapa hari didistribusikan ke kios pegecer, khususnya di Kecamatan Bandar Baru, diduga dijual diatas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Hal tersebut diakui beberapa petani di kecamatan paling barat Pidie Jaya itu kepada AJNN, Rabu (27/1).

"Karena di Lueng Putu (pusat Kecamatan Bandar Baru) tidak ada lagi pupuk, terpaksa saya cari pupuk kemana saja, karena padi sedang membutuhkan pemupukan. Saya beli pupuk ini di Kabupaten Pidie. Harganya Rp 130 ribu," kata salah seorang petani asal Cubo Kayee Jatoe saat dijumpai AJNN di jalan yang membawa pulang satu sak pupuk jenis Urea. Namun, petani yang mengedarai motor matic itu tidak mau namanya dipublis.

Petani di Kecamatan Bandar Baru lainnya, Samsul menyebutkan, untuk jenis pupuk Urea, ia membeli dengan harga Rp 140 ribu per karung 50 kilogram.

"Kemarin saya beli di Lueng Putu, pupuk Urea Rp 140 ribu satu saknya," katanya.

Terpisah, petani di Gampong Pulo Puep, masih dalam Kecamatan Bandar Baru, M Ridha menyebutkan, meski ia tidak membeli pupuk yang baru didistribusikan beberapa hari lalu di kecamatan itu, tetapi rekan seprofesinya mengatakan pada dia bahwa pupuk yang dibeli pada kios pengecer seharga Rp 130 ribu.

"Saya tidak membeli, tapi teman saya bilang, ia beli pupuk urea kemarin harganya Rp 130 ribu satu karung," kata Ridha melalui sambungan seluler.

Baca: HET Terbaru Pupuk Bersubsidi di Pidie Jaya

Menurut Ridha dan beberapa petani yang ditemui AJNN di kecamatan tersebut, mereka tidak mempermasalahkan harga yang dipatok diatas HET. 

Petani, lanjutnya, hanya ingin pupuk bersubsidi tersedia saat petani membutuhkan pemupukan, meskipun dijual diatas harga eceran tertinggi.

"Menurut saya harga yang dijual saat ini tidak masalah bagi petani, tetapi yang jadi masalah, saat petani membutuhkan pupuk, pupuknya tidak ada, sedangkan padi sangat butuh pemupukan seperti beberapa pekan lalu, pupuknya tidak ada,"

"Nama kami ada di RDKK, tapi saat kami butuh pupuk, pupuknya tidak ada. Seharusnya kios pengecer memenuhi kuota pupuk untuk kami yang ada di RDKK, kalau kuota kami tidak terpenuhi, untuk apa juga nama kami ada di RDKK," kesalnya.

Meskipun para petani tersebut tidak mempermasalahkan harga pupuk dijual diatas HET. Namun, hal itu bertentangan dengan aturan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian, No 49 Tahun 2020, Tgl 30 Desember 20.

Yang mana pada peraturan tersebut, harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi adalah, jenis pupuk urea Rp 2.250 per kilogram atau Rp 112.500 per karung. Pupuk ZA Rp 1.700/kg atau Rp 85 ribu per karung. Pupuk Sp-36 Rp 2.400/kg atau Rp 120 ribu per karung. Pupuk NPK Phonska Rp 2.300/kg atau Rp 115 ribu per karung. Dan pupuk petroganik Rp 800/kg atau 32 ribu per karung.

"Tidak boleh dijual diatas harga HET, kalau kios yang jual diatas HET, akan diberi teguran baik lisan mupun tulisan," jawab Kadis Pertanian Pidie Jaya, Muzakkir melalui pesan WhatsApp.

Komentar

Loading...