Unduh Aplikasi

Puluhan Makam Raja dan Ulama di Aceh Tertimbun Tanah

Puluhan Makam Raja dan Ulama di Aceh Tertimbun Tanah
Suasana makam ulama dan raja Aceh yang tertimbun tanah. Foto: Dok. Istimewa

BANDA ACEH - Puluhan makam raja dan ulama di Desa (Gampong) Pande, Banda Aceh, tertimbun tanah pembangunan. Akibatnya sejumlah nisan jejak sejarah kerajaan Aceh yang baru saja diikat dengan kain kuning hilang dilumat tanah.

Ketua Lembaga Penyelamat Sejarah dan Budaya (Peusaba) Aceh, Mawardi Usman, mengatakan tertimbunnya makam raja dan ulama diketahui saat pecinta sejarah berkunjung ke Desa Pande pada Senin (20/5).

Setiba di sana, mereka melihat nisan yang telah dililit kain kuning dalam kondisi tertimbun tanah. Bagi sebuah kuburan, kain kuning adalah manifestasi dari kesucian.

“Kami kemarin pergi ke lokasi. Sampai di sana sudah seperti itu. Informasi yang kami dapat itu timbunan untuk dibuatkan lokasi pemakaman baru,” kata Mawardi dihubungi kumparan, Selasa (22/5).

Mawardi menyayangkan lantaran tidak adanya informasi dari pihak terkait tentang pengerjaan timbunan di lokasi setempat. Padahal, beberapa hari yang lalu, Mawardi bersama Ketua Dunia Melayu Dunia Islam, Tan Sri Muhammad Ali Rustam memasang kain kuning untuk menandakan makam-makam di sana penting dan merupakan jejak sejarah Aceh yang harus dijaga.

“Mereka datang khusus ketika Haul Tuan Di Kandang. Jumlah makam yang tertimbun banyak sampai puluhan. Banyak karena memang kawasan makam semua. Dulu sebagian sudah dibongkar untuk tambak sekarang malah ditimbun lagi,” keluh Mawardi.

Peusaba Aceh mengutuk keras tindakan penimbunan makam raja dan ulama di kawasan tambak Gampong Pande. Menurut Mawardi, selama ini teman-teman pecinta sejarah berusaha melakukan pemugaran dan menjaga makam-makam yang ada di Gampong Pande.

"Siapa sangka hari ini di bulan suci, seluruh kawasan tambak di sana mau ditimbun. Kelakuan yang menimbun makam raja dan ulama Islam adalah kelakuan yang sangat kita sayangkan,” katanya.

Peusaba meminta kepada pihak terkait dah masyarakat Aceh bersatu melindungi makam raja dan ulama di Gampong Pande. Di balik nisan-nisan yang tertimbun itu, kata Mawardi, ada sebuah nisan berkhat kufi bertuliskan kalimat tauhid. Jika dilihat bentuk nisan berasal dari Turki.

“Sepertinya ada agenda besar di belakang ini untuk memusnahkan sejarah Aceh hingga lenyap sama sekali,” ujar dia.

Sebelumnya, pada Mei 2018, ahli geofisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pernah melakukan observasi ke lokasi yang diduga tempat kerajaan Aceh Darussalam, di Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh.

Penelitian dilakukan untuk mengetahui isi kandungan yang ada di bawah tanah lokasi tersebut yang kini menjadi bekas proyek pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Menggunakan alat Ground Penetrating Radar (GPR), peneliti Prof Teuku Abdullah Sani melakukan pendeteksian ke seluruh area kawasan bekas pembangunan IPAL. Penelitian bertujuan untuk membuktikan kebenaran tentang lokasi itu bahwa dulunya pernah berdiri Kerajaan Islam Aceh terbesar.

Arkeolog dan juga dosen Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Husaini Ibrahim, mengatakan dari hasil temuan batu nisan ulama dan raja Aceh saat proses penggalian di areal proyek IPAL, diyakini dulunya pernah berdiri kerajaan Aceh di sana.

“Jadi saya memprediksikan di sini pernah berdiri Kerajaan Islam. Kerajaan ini adalah cikal bakal lahirnya Koeta Radja yang kini dikenal dengan nama Banda Aceh. Dahulu, ini adalah pusat penyebaran ajaran Islam di Asia Tenggara,” paparnya saat itu.

Komentar

Loading...