Unduh Aplikasi

Pukat Trawl Kian Mengganas, Nelayan Aceh Utara Datangi Kantor Bupati

Pukat Trawl Kian Mengganas, Nelayan Aceh Utara Datangi Kantor Bupati
Puluhan nelayan datangi Kantor Bupati Aceh Utara. Foto:AJNN/Sarina

ACEH UTARA – Puluhan nelayan tradisional Kuala Pasee, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, mendatangi kantor bupati setempat, Selasa (24/11).

Kedatangan mereka sekitar pukul 11.30 WIB itu untuk meminta pemerintah daerah segera menertibkan pukat trawl yang kian mengganas dan meresahkan nelayan tradisional.

Salah seorang perwakilan nelayan, Mansurdin Husein mengatakan, tujuan mereka mendatangi kantor tersebut untuk mengadu kepada bupati, bahwa nelayan sudah sangat resah dengan beroperasinya pukat trawl itu.

“Pukat trawl sudah sangat meresahkan kami, karena ketika kami pasang jaring semua hancur terkena katrol, ikan-ikan semua habis,” katanya kepada AJNN.

Sambung Mansurdin, kedatangan mereka ke Kantor Bupati bukan untuk melakukan demo, akan tetapi memohon kepada orang nomor satu di Aceh Utara tersebut agar masalah ini tuntas.

“Ini sudah berlarut-larut selama tiga tahun, sudah pernah koordinasi dengan dinas Perikanan namun tidak membuahkan hasil. Hari ini kami ingin ketemu dengan bupati,” tuturnya.

Para nelayan kata Mansurdin, akan membuat aksi yakni membakar pukat trawl apabila ditemukan. Hal itu dilakukan jika pemerintah daerah melalui intansi terkait tidak peduli dengan keluhan masyarakat nelayan tersebut.

“Kami tidak bisa bersabar lagi, sudah kelaparan. Kalau dulu pendapatan kami bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi sekarang tidak mencukupi lagi,” ungkapnya.

Menurutnya, lebih kurang 70 unit  lebih pukat trawl yang beroperasi di kawasan tersebut. Jarak mereka berkerja mulai 100 meter dari pinggir pantai hingga beberapa mill ke tengah laut, selama 24 jam.

“Kami sudah pernah tegur, karena ada warga kami yang ditabrak. Orangnya hampir meninggal dan boatnya hancur,"ujar Mansurdin.

Kalau keluhan mereka tidak ditanggapi oleh bupati kata Mansurdin,maka akan menjadi masalah besar dannelayan ambil tindakan sendiri.

Jika tidak kunjung diselesaikan, nelayan tersebut juga mengancam akan membangun tenda dan membawa anak istri dihalaman Kantor Bupati, untuk diberi makan oleh bupati, karena nelayan tradisional sudah kekurangan ekonomi.

Hal lain yang paling menyedihkan adalah nelayan eks kusta, mereka rata-rata pelaut semua. Saat ini tidak bisa menghasilkan lagi saat melaut. 

"Sehingga uang makan diberikan oleh bupati. Nah karena Covid-19, uang makan mereka juga dipotong 50 persen,” imbuhnya.

Komentar

Loading...