Unduh Aplikasi

INTERMESO

Puisi

Puisi
Ilustrasi: the academia magazine.

PUISI itu adalah puncak seni. Seperti filsafat yang merupakan puncak ilmu. Orang-orang yang mengerti akan rela membayar mahal untuk mendapatkan puisi-puisi indah yang dibuat sebagai pancaran jiwa.

Puisi itu menjadi perlambang kelunakan hati. Mereka yang tak bisa menikmati puisi, belum utuh sebagai manusia. Akan sulit pula tersentuh hatinya. Padahal hati adalah tiga alat kelengkapan diri selain akal dan syahwat.

Puisi itu makanan hati. Tak heran jika Allah menuliskan banyak puisi untuk manusia dalam Alquran. Kalimat-kalimat yang tak ada keraguan di dalamnya itu dibungkus dengan Bahasa-bahasa yang indah. Puitis.

Maka tak heran jika Alquran dapat dinikmati siapa saja. Bahkan mereka yang baru sekali mendengarkan Bahasa Arab. Allah membuat Alquran bukan sekadar teks. Keindahannya dapat dinikmati lewat bunyi dan musik pembacaannya.

Lihatlah betapa indahnya percakapan Nabi Ibrahim as dengan anaknya, Nabi Ismail as, setelah sang ayah mendapatkan perintah untuk menyembelih si anak. Simak pula keindahan ketika Allah menggambarkan suasana saat Luqman menasehati anaknya.

Untuk mengingatkan tentang bahaya zina, misalnya, Allah tidak membuat larangan langsung. Allah memilih menggunakan bahasa puitis. Dia mengingatkan hamba-Nya untuk tidak mendekati, la taqrabu. “Karena itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruknya jalan.”

Tentu saja puisi tertentu hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang memiliki takaran rohani tertentu juga. Jika tidak, mereka tak bisa merasakan keindahan-keindahan itu, tak peduli seberapa cerdas pikirannya. 

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...