Unduh Aplikasi

PT Mifa Pastikan Bertahan di Tengah Resesi Ekonomi

PT Mifa Pastikan Bertahan di Tengah Resesi Ekonomi
Tumpukan batu bara milik PT Mifa di wilayah Stockpile. Foto AJNN/Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Resesi ekonomi yang terjadi hampir di seluruh negara di belahan dunia akibat mewabahnya virus corona telah membuat banyak sektor industri terpuruk, termasuk industri pertambangan batubara. Terpuruknya industri pertambangan batubara tidak terlepas dari menurunnya harga jual batubara.

Saat ini harga jual batubara terutama untuk kalori rendah atau di bawah 4.200 Kkal, hanya 17 Dollar Amerika Serikat (USD)/metrix ton. Harga ini justru tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan oleh perusahaan tambang batubara.

Meski ancaman terhadap industri batubara terus terjadi akibat resesi ekonomi, bahkan Indonesia pada kwartal ke tiga ini resmi mengalami resesi dengan kontraksi pertumbuhan ekonmi minus 3,49 persen sesuai rilis Badan Pusat Statistik (BPS), namun perusahaan tambang batubara PT Mifa Bersaudara memastikan diri masih mampu bertahan, meski berkurangnya jumlah produksi.

Bukan hanya bertahan, di situasi sulit ini PT Mifa memastikan tidak ada ancaman pengurangan atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi karyawan di perusahaan tambang batubara yang beroperasi di Aceh Barat ini.

Kepala Tekhnik Tambang (KTT) PT Mifa Bersaudara, Adi Risfandi menyebutkan tidak adanya pengurangan atau PHK bagi karyawan perusahaan tersebut lantaran dalam beroperasi perusahaan tersebut memiliki strategi tersendiri dalam menyelamatkan perusahaan dari ancaman keterpurukan akibat dari krisis ekonomi secara global saat ini.

Dikatakan Adi, akibat dari pandemi tersebut negara tujuan ekspor batubara PT Mifa yakni India dan China menutup pelabuhannya lantaran negara tersebut menerapkan Work From Home (WFH). Kondisi tersebut, kata dia, membuat PT Mifa tidak dapat menjual batubara hasil produksi. Kondisi sulit ini dialami Mifa sejak April dan Mei.

“Saat itu kapal-kapal batubara Mifa tidak bisa disandarin, karena orangnya itu pada work from home semua. Kemudian apa yang terjadi sama kita (PT Mifa-red). Kita tidak bisa jualan. Jadi jualan kita turun hampir enam puluh persen waktu itu. Kita Alhamdulillah sampai hari itu tidak ada pengurangan tenaga kerja ya,” kata KTT Tambang Batu bara PT Mifa Bersaudara, Adi Risfandi.

Adi menjelaskan meski menurunnya jumlah produksi akibat dari sulitnya pemasaran terhadap batubara agar tidak terjadi pengurangan karyawan, kata dia, perusahaan mengambil langkah dengan mengurangi jam kerja bagi kru operation atau tenaga produksi.

Akan tetapi, kata dia, dalam pengurangan jam kerja perusahaan tidak memberlakukan hari libur bagi para karyawan agar produksi tetap berjalan.

“Tapi Alhamdulillah pada Juni dan Juli mulai menunjukkan perbaikan dari kondisi pasar batubara, dimana India sudah mulai membuka, kita sudah mulai ada peningkatan, jumlah produksi,” kata dia.

Adi menjelaskan, meski saat intu terjadinya perbaikan pasar batubara sehingga jumlah produksi kembali dapat ditingkatkan namun dari sisi harga, masih terpuruk. Bahkan pada saat itu harga jual batubara hanya 15 USD per/metrix ton.

Meski  hanya seharga  15 USD/metrix ton, kata dia, perusahaan ini tetap berproduksi dan hal ini jauh berbanding terbalik dengan tahun 2015, dimana perusahaan tersebut sempat tutup sebagian wilayah operasi perusahaan dan sempat terjadi pengurangan karyawan meski saat itu harga jual batubara 17 USD/metrix ton.

Dijelaskannya, kemampuan perusahaan tersebut bertahan di tengah pandemi Covid-19 yang membuat krisis ekonomi secara global, lantaran kini perusahaan tersebut terus belajar dari pengalaman, dan mulai mampu beroperasi dengan melakukan efisiensi namun tetap produktif. Hal, ini sebut Adi, tidak terlepas dari kematangan kerja serta dedikasi yang tinggi dari karyawan di perusahaan tersebut.

“Dulu waktu tahun 2015 awal produksi kitakan masih fase komersial dan meraba-raba, ya kayak apa sih kerja kita," ujarnya.

Adi juga mengungkapkan kalau pada tahun 2020 ini, hampir semua karyawan semua sudah memiliki kematangan, kapabilitas untuk bekerja dan sudah lebih efisien. sehingga walaupun harga turun pihaknya masih bisa menyesuaikan dengan aktivitas produksi.

Dijelaskan Adi, sebelum Covid-19 melanda Indonesia pada awal April lalu produksi batubara PT Mifa terus terjadi peningkatan hingga 1 juta metrix ton hingga maret 2020, akan tetapi akibat pandemi virus SARS-CoV-2 diumumkan di Indonesia pada awal April lalu oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo, membuat jumlah produksi menurun hingga 60 persen atau hanya produksi 400 ribu metrix ton per bulannya.

Hasil produksi tersebut, dapat dijual oleh PT Mifa setelah perusahaan tersebut berhasil membuka pasar baru dengan negara tujuan ekspor Vietnam dan Thailand, dan meningkatkan jumlah produksi bagi kedua negara tersebut.

“Selama ini yang terbanyak menampung itu India dan China, jadi krisis itu kita mencari pasar lain di Thailand dan Vietnam. Alhamdulillah pada bulan Juni dan Juli terus terjadi peningkatan,” ungkapnya.

Saat ini, kata Adi, India terus meminta tambahan pasokan batubara, meski demikian kata dia saat ini China belum melakukan permintaan batubara dari Indonesia, terutama dari Aceh Barat. Ia menjelaskan, saat ini jumlah produksi batubara PT Mifa kembali meningkat mencapai 900 ribu metrik ton per bulan atau kembali mendekati 1 juta metrix ton.

Bahkan, kata dia, harganya mulai meningkat menjadi 17 USD/metrix ton dari 15 USD/metrik ton, meski secara harga belum stabil. Sebab menurut Adi, harga batubara dengan Kalori di bawah 4200 Kkal baru dikatakan stabil dengan harga 23 USD/metrix ton.

Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...