Unduh Aplikasi

Psikolog Dukung Dek Gam Dorong Aparat Hukum Pakai UUPA Jerat Pelaku Pencabulan

Psikolog Dukung Dek Gam Dorong Aparat Hukum Pakai UUPA Jerat Pelaku Pencabulan
Psikolog dari Rumah Pelayanan Psikologi (RLP), Endang Setianingsih. Foto: For AJNN

BANDA ACEH - Psikolog dari Rumah Pelayanan Psikologi (RLP), Endang Setianingsih mengapresiasi pernyataan Anggota Komisi III DPR RI, Nazaruddin Dek Gam yang mendorong agar aparat hukum di Aceh memakai Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA) dalam menjerat pelaku pencabulan.

"Saya sangat meapresiasi statment Nazaruddin Dek Gam, karena kita ketahui selama ini pelaku hanya dikenakan cambuk, setelah itu pulang berlengang di depan korban," kata Endang Setianingsih, Selasa (13/10).

Endang Setianingsih yang selama ini ikut mendampingi korban pencabulan itu mengaku miris melihat kondisi korban yang trauma berkepanjangan.

"Selama saya mendampingi korban, dampak yang terjadi pada korban yang mengalami kekerasan seksual akan berakibat trauma yg berkepanjangan, depresi, cemas yang begitu tinggi, ketakutan terhadap obyek yang menyerupai dan bahkan takut kesendirian, kegelapan," ungkapnya. 

Menurutnya ketidakberdayaan anak dalam kondisi ini sering merasa bahwa mereka tidak memiliki kontrol atas diri mereka sendiri. Rasa bersalah terhadap dirinya sendiri dan malu dengan lingkungan sosialnya dan ditambah lagi di-bullying oleh teman-temannya.

"Sehingga kondisi korban makin menutup diri karena semua masalahnya adalah tanggungjawabnya sendiri, emosionalnya yang tidak stabil, sehingga korban mudah tersinggung dan marah," jelasnya.

Ia menjelaskan anak korban pelecehan seksual dan pencabulan akan terbelenggu dengan rasa sedih karena telah kehilangan, anak mengalami gangguan tidur akibat flashback kejadian yang dialaminya, sehingga anak terbawa dalam mimpi buruknya, dan bahkan korban ada yang ingin bunuh diri, dan korban juga bisa memiliki kemungkinan akan menjadi pelaku.

Baca: Dek Gam Sorot Hukuman Cambuk bagi Pelaku Pencabulan

"Sepanjang penanganan yang saya lakukan dari tahun 2010 sampai dengan sekarang, bukan hanya korban yang mengalami trauma yang sangat menyiksa, tetapi keluarga korban juga ikut terseret dalam situasi tersebut," jelasnya.
 
Bahkan, kata Endang, korban makin menjadi terkorbankan saat para pelaku bebas setelah dicambuk, dan pelaku mentertawakan korban dan keluarga korban, sehingga keluarga korban beserta korban makin terhimpit dengan peristiwa ini.

Endang mengungkapkan perubahan sikap korban semakin tidak membuatnya nyaman, akhirnya ada korban terpaksa dipisahkan dari orangtuanya dan dititipkan di pesantren dengan alasan supaya korban tidak melihat pelaku lagi, padahal dalam pemulihan traumanya, korban sangat membutuhkan keluarga intinya, tapi karena korban tidak ada pilihan lain, korban harus diungsikan. 

"Saya juga menemukan korban sudah menjadi pelaku karena dia mengangap dirinya tidak berarti lagi, dan keadilan pun tidak didapatkannya. Sehingga sudah sepatutnya pemerintah dan aparatur penegak hukum untuk kasus kekerasan seksual menggunakan UUPA dan bukan cambuk.

"Kembalikan rasa keadilan untuk para korban, walau korban tidak sepenuhnya mendapatkan hak-haknya, akan tetapi korban sedikit banyak bisa melihat dirinya diperhatikan dan ada keadilan," katanya.

"Saya juga mengharapkan kepada Nazaruddin Dek Gam bukan hanya polda yang didorong, namun kejati juga harus didorong juga," tambahnya.

Komentar

Loading...