Unduh Aplikasi

PEMBATALAN PEMENANG LOMBA TARI FL2SN

Psikolog: Disdik Aceh Barat Ajarkan Anak Cara Berbohong

Psikolog: Disdik Aceh Barat Ajarkan Anak Cara Berbohong
Fahratul (Tengah) bersama rekannya, penari peucicap aneuk.

ACEH BARAT - Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Barat dinilai mengajarkan cara berbohong kepada anak, atas peristiwa pembatalan kemenangan siswa SD Negeri 2 Meulaboh dalam kompetisi Festival Dan Lomba Seni Siswa Nasional (FL2S) yang berlangsung 29 Juli lalu. Hal ini diungkap oleh ahli Psikologi, Diah Pratiwi, Psi.

Menurut, Wiwik--sapaan akrab Diah Pratiwi-- atas tindakan dinas yang membatalkan kemenangan terhadap Fahratu Zahira Afra (11) dan rekannya Cut Putri Widya Weta dan Cut Putri Maulida itu sama dengan mengajarkan sianak jika kemenangan tersebut bukan bukan sesuatu yang mahal dan dapat dirubah begitu saja, sesuai keinginan orang tersebut.

Baca: Disdik Aceh Barat Batalkan Sepihak Pemenang Lomba Tari FL2SN

Kondisi ini kata dia, bahkan akan lebih mudah tergambarkan bagi sianak yang memiliki kepribadian introvert atau berkepribadian fokus pada pikiran, perasaan, yang berasal dari dalam diri sendiri.

"Anak yang introvert akan menilai sebuah kemenangan itu bukan sesuatu yang mahal karena bisa dirubah begitu saja oleh orang dewasa, dan keinginan orang dewasa tentang siapa yang ingin dimenangkan bukan karena kerja keras mereka. Dan ini sama dengan mengajarkan anak cara berbohong," kata Diah Pratiwi.

Padahal kemenangan sesuatu yang sangat berharga, karena harus didapat melalui perjuangan dan proses yang panjang, bukan sesuatu yang bisa didapat sesuai keinginan orang lain yang bisa merubah ketika diinginkan.

Apa yang dilakukan oleh Disdik Kabupaten Aceh Barat itu, kata dia, sangat tidak bisa ditolerir karena tindakan tersebut telah membunuh karakter bagi anak-anak tersebut. Dan peristiwa ini sebutnya harusnya tidak boleh terjadi.

Dari sisi psikis, kata dia, banyak hal dan tekanan yang dihadapi oleh jiwa sianak terhadap karakter mereka seperti hilangnya rasa percaya diri, hilangnya karakter diri anak, membunuh konsep diri anak, dan cara pandang anak.

Akibat lain yang mencul, kata dia, menghilangkan kepercayaan anak terhadap suatu kompetisi apalagi anak masih memiliki sifat yang polos. Bukan hanya anak, menurutnya orang dewasa pun akan berontak jika telah dinyatakan menang lalu dibatalkan tanpa adanya kecurangan.

Dikatakan Wiwik, setiap pemenang dapat dibatalkan apabila terdapat atau diketahui adanya kecurangan bukan menyalahkan tema dari tari yang dibawakan oleh Fahratul dan rekannya lewat tari kolosal dengan tema peucicap aneuk tersebut.

"Ini aneh, kalau memang itu tidak layak kenapa tidak dari awal dan baru dibatalkan setelah pertandingan. Kalau memang dianggap tidak layak ini kesalahan pada orang dewasa bukan malah sianak yang dikorbankan," ucap Wiwik.

Bagi Wiwik, apa yang dilakukan oleh Dinas tersebut sama dengan mempermalukan diri mereka sendiri, lantaran mengambil kebijakan diluar wewenang dinas ataupun panitia lomba.

Dalam setiap kompetisi, kata dia, apa yang menjadi keputusan dewan juri merupakan sesuatu yang sifatnya mutlak dan tidak dapat diganggu gugat, apalagi dewan juri tersebut tidak hanya satu orang dan mereka masing-masing menilai dan hasil penilaian tersebut menjadi kesepakatan bersama untuk dimenangkan tentunya dengan berbagai bentuk yang dinilai dari setiap hal masuk dalam katagori penilaian.

"Apa yang dilakukan mereka (Dinas) itu sama dengan memukul air didulang terpercik ke muka sendiri. Dinas sama dengan mempermalukan diri mereka atas peristiwa ini. Mereka bertanggung jawab penuh atas hal ini," ujarnya.

Untuk kesalahan itu, kata dia, pihak dinas harus meminta maaf kepada sianak dan mampu menjelaskan semua hal, tentunya dengan pola pikir anak. Jika hal tersebut tidak bisa dilakukan maka, kata dia, sampai dewasa psikis anak akan terguncang dan meruntuhkan kepercayaan mereka terhadap lingkungan sekitar.

Ucapan Selamat Pelantikan DPRA - Aceh Barat
iPustakaAceh
Ucapan Selamat Pelantikan DPRA - Pemerintah Aceh

Komentar

Loading...