Unduh Aplikasi

Protes Upah, Buruh Bongkar Muat di Pelabuhan Calang Mogok Kerja

Protes Upah, Buruh Bongkar Muat di Pelabuhan Calang Mogok Kerja
Kapal Shandong Kuai berbendera Hongkong yang mengangkut tiang pancang milik PLTU Nagan Raya, tengah sandar di Pelabuhan.

ACEH JAYA - Sebanyak 36 buruh bongkar muat barang di Pelabuhan Calang, Aceh Jaya melakukan mogok kerja sejak pagi hari tadi, Senin (2/11).

Pasalnya, mereka menilai upah yang diberikan oleh pihak koperasi terlalu minim dan tidak sesuai dengan beban kerja mereka.

Kasri Yuman, salah satu buruh bongkar muat, menyampaikan pihak koperasi sebelumnya hanya memberi upah kepada mereka sebesar 40 persen dari total gaji. Dan sebanyak 60 persen dari gaji mereka dipungut untuk koperasi.

"Kami merasa upah yang diberikan untuk kami setelah dipotong 60 persen untuk koperasi sangat tidak layak dengan beban kerja kami," kata Kasri Yuman.

Menurutnya, setiap buruh bekerja tiap hari sejak pukul 08.30 WIB hingga pukul 00.00 WIB, namun upah yang diberikan jauh dari UMR yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

Oleh sebab itu, pihaknya mengajukan untuk penambahan persen gaji bagi pekerja dan dikurangi persen untuk koperasi.

"Selama ini yang kami dapat hanya 40 persen dari total gaji, maka kami sudah keberatan jika kedepan masih dipotong 60 persen untuk Kopersai. Oleh karena itu kami mengajukan 70 persen untuk pekerja dan 30 persen untuk Koperasi," tutur Yuman.

Namun pihak Koperasi menolaknya, dan mereka hanya menaikkan persen upah buruh menjadi 55 persen, dan 45 persen untuk koperasi.

Sementara, pihak buruh tidak menyetujuinya, dan tetap pada permintaan awal yaitu sebanyak 70 persen untuk buruh dan 30 persen untuk Koperasi.

"Ya karena belum ada titik temu makanya kami mogok dulu kerjanya hingga ada kejelasan terkait upah kami," terang Yuman.

Sementara itu, Ketua Koperasi TKBM Pelabuhan Calang, Erwin menyampaikan selama ini persoalan upah tersebut sudah sesuai dengan perjanjian awal yakni, sebesar 60 untuk koperasi dan 40 untuk para buruh.

"Upah yang diberikan untuk mereka sudah sesuai. Namun saat bongkar muat barang pada kapal Sprint Salim kemarin memang terkendala dengan cuaca yang tidak mendukung sehingga waktu kerja yang seharusnya tidak lama menjadi lama, sehingga pada saat mereka hitung-hitung upah seolah-olah bekerja lama tapi upahnya sedikit," teran Erwin.

Katanya, upah yang diterima oleh pihak buruh TKBM sebanyak 40 persen itu sudah bersih untuk mereka. Di luar pajak, jaminan kecelakaan kerja dan di luar uang makan.

"Mereka semua terima bersih tidak ada tanggung apa-apa, baik itu alat kerja untuk safety maupun makan bahkan iuran BPJS juga sudah ditanggung oleh koperasi," ungkap Erwin.

Namun demikian, terkait permintaan dari pihak TKBM untuk menaikkan upah menjadi 70 persen untuk buruh dan 40 persen untuk koperasi itu tidak diputuskan dalam forum kecil namun harus duduk bersama lagi untuk membahas masalah tersebut.

"Keputusan itu harus kita ambil dalam rapat besar seperti halnya pada saat pengambilan keputusan sebelumnya 40 persen untuk buruh dan 60 persen untuk koperasi itu duduk seluruh anggota koperasi dan juga seluruh anggota TKBM hadir yang menyepakati 60 untuk koperasi dan 40 untuk TKBM," ungkap Erwin.

Pihaknya juga menyampaikan jika upah yang diterima buruh melebihi batas UMR, dan upah mereka juga tidak bisa dipukul sama rata, karena semakin banyak barang yang dibongkar semakin besar upah mereka, dan sebaliknya.

"Kenapa sekarang baru dipermasalahkan terkait upah, sebelumnya ada beberapa kapal yang sudah lalu tidak ada persoalan," tanya Erwin.

Selain itu, pihaknya juga menyediakan uang lembur sebesar Rp 100 ribu per jam.

"Jadi di mana ada yang segitu, bahkan uang tunggu juga kita berikan, uang lembur itu tidak masuk dalam gaji pokok bahkan ada yang sampai Rp 2 juta uang lembur yang mereka terima," kata Erwin.

Komentar

Loading...