Unduh Aplikasi

Proses Rehab Rekon Pijay Tahap Pertama Berkalang Masalah

Proses Rehab Rekon Pijay Tahap Pertama Berkalang Masalah
Rumah bantuan gempa tahap pertama milik Muhammad Yusuf belum rampung dibangun. Foto: AJNN.Net/Muksalmina

PIDIE JAYA - Muhammad Yusuf, warga Gampong Pulo Puep, Kecamatan Bandar Baru, adalah salah seorang dari dua ribu lebih korban gempa Pidie Jaya yang mendapat bantuan rekon. Namun, rumah yang mulai dibangun pada tahun 2018 itu hingga saat ini belum rampung.

Seperti diketahui, rehab rekon permukiman mulai dikerjakan Kamis, 1 Maret 2018. Namun lebih dari setahun, sejumlah rumah masih belum siap dikerjakan, sehingga korban gempa masih belum dapat menempati bantuan dari pemerintah tersebut, salah satunya rumah Muhammad Yusuf di Pulo Puep.

"Uangnya (dana rehab rekon) belum habis diberikan, masih ada sisa sama pokmas (kelompok masyarakat), makanya rumah saya hingga saat ini belum siap," kata Muhammad Yusuf kepada AJNN, Senin (22/7).

Dijelaskan, ia mendapat bantuan rekon atau bangun dari dasar, tapi pria paruh baya itu merubah sedikit gambar dari gambar rumah yang diberikan pemerintah. Namun, perubahan gambar tersebut sudah dipikir matang olehnya, dalam artian, jika tidak cukup bantuan yang diberikan sebesar Rp 85 juta, maka pembangunan akan dilanjutkan mengunakan uang pribadinya.

"Gambarnya sedikit saya ubah, saya sudah membuat pernyataan akan mengunakan uang pribadi jika tidak cukup," jelasnya.

Menurutnya, bantuan sebesar Rp 85 juta tersebut lebih dari cukup untuk pembangunan dengan bentuk gambar seperti yang telah diubahnya. Sehingga ia yakin dengan gambar yang dipilih itu.

Lanjutnya, saat ini ia masih menunggu pembayaran dari pengurus pokmas sebesar Rp 6,9 juta untuk melanjutan pembangunan rumah bantuan gempa tahap pertama itu. Dalam musyawarah beberapa hari lalu yang disaksikan oleh kepala desa setempat, sambung dia, pengurus pokmas berjanji akan mengembalikan bantuan miliknya itu.

M Yusuf, memperlihatkan kwitansi perjanjian dari pengurus pokmas yang juga turut ditanda tangani oleh kepala desa setempat sebagai saksi.

"Kalau saya kerjakan sendiri Rp 80 juta sudah cukup dengan bentuk seperti ini. Namun apa boleh buat, pembangunan harus melalui pokmas, sehingga Rp 85 juta saja tidak cukup, itu belum termasuk uang pribadi yang saya gunakan. Tapi jika Rp 6,9 juta itu dibayar, Insyaallah siap rumah saya, meski keramik (lantai) harus saya gunakan uang pribadi lagi," cetusnya.

"Mereka (pengurus pokmas) berjanji akan mengembalikan uangnya pada tanggal 7 September mendatang. Saya berharap secepatnya diberikan, karena dalam waktu dekat saya ingin kenduri (resepsi pernikahan) anak saya, jadi saya ingin rumah saya siap sebelum kenduri," tambahnya sambil memperlihatkan kwitansi perjanjian dari pengurus pokmas yang juga turut ditanda tangani oleh kepala desa setempat sebagai saksi.

Baca: Setahun Lebih Berlalu, Sejumlah Rumah Korban Gempa Pijay Tahap Pertama Belum Rampung

Sebelumnya, Kepala Bidang Rekontruksi dan Rehabilitasi BPBD Pidie Jaya, Aswan Aziz kepada wartawan, Selasa (16/7) mengakui bahwa ada sejumlah rumah korban gempa tahap pertama dari 2.999 unit rusak berat dan 2.799 rusak sedang hingga kini belum tuntas dibangun dan belum dapat ditempati warga.

Atas persoalan rumah korban gempa yang dikeluhkan warga itu, kata Aswan, tim dari Inspektorat Pemkab Pidie Jaya telah turun ke lapangan untuk melakukan audit terhadap penggunaan dana hibah yang dikelola oleh kelompok masyarakat dengan mencocokkan dengan progres pelaksanaan bangunan.

"Sudah turun tim dari Inspektorat untuk di verifikasi dan dilakukan audit penggunaan dana. Inspektorat memberi limit waktu sebulan untuk diselesaikan rumah warga itu hingga fungsional," kata Aswan.

Jika dalam jangka waktu yang diberikan rumah korban gempa belum pun tuntas dibangun sesuai dengan RAB dan fungsional, maka pengurus kelompok masyarakat yang mengelola rumah warga itu harus bertanggung jawab dan berhadapan dengan hukum.

"Jika tidak siap dan fungsional dalam limit waktu yang diberikan itu, Pokmas harus bertanggung jawab di hadapan hukum," sebutnya.

Komentar

Loading...