Unduh Aplikasi

Program Pansimas di Aceh Barat Diduga Bermasalah

Program Pansimas di Aceh Barat Diduga Bermasalah
Foto: Net

BANDA ACEH - Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat, Edy Syahputra mendesak pihak terkait untuk segera menuntaskan pekerjaan Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Kabupaten Aceh Barat.

Menurutnya, pihaknya sering mendapat laporan bahwa program Pansimas itu banyak menimbulkan persoalan baru dan dinilai masih jauh dari harapan. Ia juga mendapati, selama ini program pemerintah pusat itu belum mampu menjawab kebutuhan warga terhadap air bersih serta sanitasi yang sehat.

"Kami juga mendorong agar adanya pemeriksaan dari pihak berwenang atas proyek yang kami duga menjadi mubazir tersebut," kata Edy Syahputra kepada AJNN, Senin (4/5).

Salah satu pengerjaan fisik program Pansimas yang bermasalah kata Edy, terdapat di Desa Marek, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat. Berdasarkan penuturan perangkat desa, pada tahun 2017 lalu disana ada dibangun jamban bagi masyarakat.

Tetapi, setelah bak penampungan (septic tank) selesai dikerjakan, closet atau jamban untuk keperluan buang air besar hingga saat ini tidak selesai dikerjakan. Oleh karena itu, masyarakat disana masih BAB dengan menggunakan wc terbang (plastik-red) atau buang hajat ke sungai.

Sementara itu, kata Edy, perangkat desa disana juga menyebutkan bahwa sumur bor yang sudah selesai dikerjakan melalui program Pansimas tersebut, saat ini juga tidak bisa digunakan lagi oleh warga desa. Sebabnya, masyarakat disana tidak mendapatkan sarana air bersih.

"Ironis, dan kesan yang timbul yaitu program Pamsimas menjadi sia-sia pembangunannnya. Artinya penggunaan anggaran pusat tersebut tidak termanfaatkan dengan maksimal," tegasnya.

Padahal secara umum Indonesia sedang gencar-gencarnya melakukan pengentasan kemiskinan, pembangunan sumber daya manusia, serta perbaikan pelayanan masyarakat. Kondisi buruk sarana sanitasi masyarakat juga menyebabkan kerugian besar terhadap kesehatan, ekonomi, dan lingkungan.

"Salah satu dari empat penyebab utama kematian balita di Indonesia, disebabkan karena diare dan tifus. Penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan langsung oleh ketidaklayakan sarana air minum, sanitasi, perilaku hidup tidak sehatnya,"pungkas Edy Syahputra.[]

Komentar

Loading...