Unduh Aplikasi

PELAYANAN CUCI DARAH RSU MEURAXA EMPAT TAHUN TERHENTI

Prof Maimun Sukri: Tanya Aja Mereka, Saya Tidak Bisa Kasih Tahu Dapur Orang

Prof Maimun Sukri: Tanya Aja Mereka, Saya Tidak Bisa Kasih Tahu Dapur Orang
RSUD Meuraxa. Foto: Net

BANDA ACEH - Sudah empat tahun layanan instalasi hemodialisis/cuci darah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa, Banda Aceh, berhenti beroperasi. Masyarakat padahal sangat berharap agar layanan cuci darah di rumah sakit milik Pemerintah Kota Banda Aceh itu segera beroperasi. 

Layanan cuci darah di RS Meuraxa mulai tidak beroperasi lagi sejak awal April 2018. Alasan tutupnya instalasi tersebut karena penanggungjawabnya sedang melanjutkan pendidikan.  

Manajemen Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh sudah berusaha agar instalasi tersebut bisa kembali dilanjutkan dengan mengirim surat ke Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) Koordinator Wilayah Sumut-Aceh. Dimana pada 20 Juli 2020. Surat itu bernomor 440/470/2020, tentang pelayanan hemodialisis yang selama ini berhenti sementara disebabkan tidak adanya penanggung jawab yang bersertifikat dialisis. 

Baca: Pernefri Tak Keberatan RS Meuraxa Buka Layanan Cuci Darah, Namun Belum Berjalan, Siapa Bermain?

Menjawab surat RS Meuraxa, Pernefri Koordinator Wilayah Sumut-Aceh, mengirim surat kembali ke manajemen Meuraxa dengan nomor 069/PERNEFRI/Korwil Sumut-Aceh/IX/2020 dengan perihal penugasan dokter supervisor dan penanggung jawab unit HD. 

Dalam surat yang diteken oleh  Koordinator  Pernefri Wilayah Sumut-Aceh, Harun Rasyid Lubis, menjelaskan kalau untuk membuka kembali layanan hemodialisis di RSUD Meuraxa, pihaknya tidak keberatan. 

Asalkan dengan persyaratan pihak manajemen RSUD Meuraxa dan dr. Supervisor yang ditunjuk oleh rumah sakit membuat pertemuan dan pelaporan ke Prof. dr. Maimun Sukri Sp.PD-KGH yang sudah diberi tanggung jawab di wilayah sekitar Aceh.

Saat dihubungi AJNN, Prof. dr. Maimun Sukri mengungkapkan, bahwa pihak manajemen RSUD Meuraxa sudah pernah melakukan pertemuan dengan dirinya beberapa bulan yang lalu.

“Tanyak sama meraksa aja (manajemen RSUD Meuraxa), mereka sudah datang, jadi tanyak sana aja, saya ngak bisa kasih tau dapur orang,” kata Prof. dr. Maimun Sukri, kepada AJNN, Selasa (11/5).

Menurut Prof. dr. Maimun Sukri, dirinya dan manajemen RSUD Meuraxa sudah melakukan pertemuan dua bulan lebih, bahkan dirinya sudah memberikan arahan serta dirinya sudah melakukan sesuai dengan SOP.

“Pihak rumah sakit Meuraxa sudah dua bulan lebih datang, saat mereka datang kita sudah memberikan arahan, tugas saya selaku legelasi sudah saya lakukan, saya sudah lakukan dengan SOP, dan disitu bukan hanya butuh rekomendasi Pernefri tetapi ada pihak BPJS dan dari pihak dinas. Itu sudah ada syarat dan ketentuan mereka sudah paham,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, Direktur RS Meuraxa, Fuziati yang dikonfirmasi AJNN membenarkan kalau layanan cuci darah sudah empat tahun terhenti. “Sudah empat tahun yang lalu tutupnya, ini sedang persiapan pembukaan yang baru,” kata Fuziati, Senin (10/5). 

Ketika ditanyakan alasan cuci darah terhenti, Fuziati mengatakan kalau itu merupakan cerita lama, empat tahun yang lalu.

“Cuci darah terhenti itu cerita lama, empat tahun yang lalu, saya belum direktur, maaf saya tidak bisa jelaskan,” ujarnya. 

Terkait surat balasan dari Pernefri Wilayah Sumut-Aceh, Fuziati hanya menjelaskan kalau surat itu meminta untuk pembukaan baru (layanan cuci darah).

“Surat itu kami meminta pembukaan baru, konfirmasi saja ke prof Maimun, jangan ke saya,” kata Fuziati.

HUT Pijay

Komentar

Loading...