Unduh Aplikasi

Produksi Migas Aceh Turun, Ada Apa?

Produksi Migas Aceh Turun, Ada Apa?
Ilustrasi. Foto: Net

BANDA ACEH - Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Teuku Mohamad Faisal, Rabu (12/2) lalu, menyatakan optimis perencanaan hulu migas di Aceh, mampu mendukung visi bersama nasional 1 juta barrels of per day (BOPD) pada 2030.

Dalam mewujudkan hal tersebut, bahkan BPMA telah melakukan kerjasama dengan SKK Migas. Kerjasama ini ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman, tentang kerjasama dukungan kegiatan usaha hulu migas, di Cafe GCR Wisma Mulia, Jakarta, Senin (10/2).

Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh AJNN, justru saat ini produksi migas di Aceh, mengalami penurunan yang sangat drastis. Hal ini terlihat dari laporan beberapa Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), yang berproduksi di Aceh.

Penurunan produksi migas di Aceh paling signifikan ditunjukan, Pertamina Hulu Energi Blok North Sumatera Offshore dan Blok North Sumatera B (PHE NSO-NSB).

Baca: Struktur BPMA Banyak Diisi Orang Non Disiplin Ilmu Migas

Berdasarkan laporan produksi tanggal 10 Februari 2020, produksi PHE NSO-NSB, untuk minyak kondesat jumlahnya sebesar 1.511,76 BOPD dan produksi gas sebesar 96,94 MMSCFD.

Akan tetapi, angka produksi ini menurun drastis pada 13 Februari 2020. Dalam laporan produksi PHE NSO-NSB, di hari itu produksi minyak kondesat mengalami penurunan tajam sebesar 74,82 BOPD. Demikian pula halnya, dengan produksi gas yang hanya sebesar 12,11 MMSCFD.

Hal serupa juga terjadi dengan KKKS Triangel Pase dan Medco E&P Malaka. Pada 10 Februari 2020, produksi gas Triangel Pasee sebesar 1,43 MMSCFD. Namun, ditanggal 13 Februari, Triangle tercatat tidak melakukan produksi sama sekali.

Medco E&P Malaka, pada 10 Februari 2020, tercatat melakukan produksi minyak kondesat sebesar 19,75 BOPD, angka ini menunjukan perbaikan pada 13 Februari 2020, dimana produksinya meningkat menjadi 26,65 BOPD.

Baca: Akademisi: BPMA Mesti Diurus SDM 'Melek' Industri Migas

Kendati demikian, produksi gas Medco E&P Malaka, berdasarkan laporan produksi Januari-November 2019, rata-rata produksinya mencapai 57,69 MMSCFD, di tanggal 10 dan 13 Februari 2020, produksinya hanya berada pada angka 1,01 MMSCFD.

Informasi lain yang dihimpun AJNN, menurunnya produksi PHE NSO-NSB ini dikarenakan belum adanya kepastian hukum, terkait apakah kontrak kerjasama mereka akan diperpanjang atau tidak.

Hal ini berhubungan dengan rencana Pemerintah Aceh, yang ingin mengambil alih pengelolaan sumur Blok B, yang hingga saat ini masih dikelolah PHE. Karena belum adanya kepastian tersebut, PHE enggan menambah investasi.

Kabar lainnya, pihak PT Pertamina dan BPMA juga belum menandatangani Temporary Cooperation Contract (TCC), sebagai dasar PT Pertamina melalui PHE melaksanakan pekerjaan di Aceh, sejak perpanjangan sementara diberikan Menteri ESDM, dengan masa perpanjangan dari 16 November 2019 - 15 November 2020.

Baca: Sulitnya Mendapat Konfirmasi Pejabat BPMA

AJNN sudah melakukan konfirmasi kepada pihak BPMA terkait penyebab menurunnya produksi PHE NSO-NSB. Melalui pesan singkat yang dikirimkan ke Kepala Divisi Humas BPMA, Adi Yusfan, meminta AJNN menghubungi stafnya.

"Ok. Komunikasi dengan Tiara ya. Terimakasih," balas Adi Yusfan singkat.

Hingga berita ini dikirimkan, pesan singkat WhatsApp yang dikirimkan kepada Staf Komunikasi, Publikasi dan Hubungan Media BPMA, Tiara Fatimah, belum mendapat respon.

Komentar

Loading...