Unduh Aplikasi

Produksi Kopi Arabika di Lereng Burni Telong Turun 50 Persen

Produksi Kopi Arabika di Lereng Burni Telong Turun 50 Persen
Petani menjemur biji kopi. Foto: Arsadi Laksamana

BENER MERIAH - Petani kopi Arabika Gayo di Bener Meriah terancam merugi akibat cuaca panas dan hama yang menyerang tanaman mereka. Dua “hama” ini menyebabkan produksi kopi menurun.

“Jika tahun-tahun sebelumnya mencapai 33.120 ton per tahun, tahun ini diperkirakan anjlok mencapai 16.560 ton,” kata Ahmad Ready, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bener Meriah, kepada AJNN, Selasa (1/10).

Kopi, kata Ahmad, sangat bergantung pada cuaca. Kemarau panjang tahun ini membuat pohon kering dan berbuat tak maksimal. Untuk pemberantasan hama, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Bener Meriah berupaya memberikan bantuan perangkap hama dan pupuk organik, pupuk pembenah tanah, knapsack sprayer langsung kepada para petani.

Ahmad juga menyayangkan banyak petani yang tidak menggunakan perangkap hama. Padahal mereka yang sejak awal menggunakan kini bebas dari serangan hama.

Hawa panas ini sejak beberapa tahun terakhir memang dirasakan para petani. Namun hal ini tidak terlalu berpengaruh pada produksi biji kopi. Keadaan ini juga diperparah dengan serangan hama penggerek buah kopi atau hama bubuk buah.

Petani yang paling terkena dampak cuaca panas adalah Kecamatan Bukit, Kecamatan Bandar dan Kecamatan Mesidah. Ketiga kecamatan ini adalah daerah perkebunan kopi terbesar di Bener Meriah, terutama di kecamatan terakhir.

“Pada awal panen memang biasanya kualitas buah kopi tidak begitu bagus, buahnya kosong. Setelah beberapa kali panen kualitasnya akan normal. Tahun ini, setelah beberapa kali panen, kualitas kopi tidak kunjung membaik meskipun di beberapa daerah telah normal,” kata Aman Dimin, petani kopi di Kecamatan Bukit.

Keadaan seperti ini membuat harga kopi di Bener Meriah sempat mencapai titik terendah, hanya Rp 2.000 per bambu. Akibatnya, petani dibiarkan saja biji kopi itu.

Komentar

Loading...