Unduh Aplikasi

INTERMESO

Presiden Sudah, Gubernur Kapan

Presiden Sudah, Gubernur Kapan
Ilustrasi: pinterest

Aku tak merasakan antusiasme yang sama seperti pada pelantikan pertama Joko Widodo sebagai Presiden Indonesia. Tak ada gairah yang tersisa hanya rasa khawatir terhadap periode kedua kepemimpinan Jokowi--nama alias Joko Widodo.

“Kok aku semakin cemas terhadap masa depan negeri ini, Bang,” kataku kepada Bang Awee, kemarin malam. Aku pun meneruskkan curahan hati. Pada periode ini, kondisi negara tak akan membaik. Harga-harga tetap mahal, bahan bakar murah sulit didapat, harga listrik semakin menyengat keuangan masyarakat yang terus terjepit karena semua-semua menjadi mahal.

Hal ini diperburuk dengan penegakan hukum yang semakin sumir. Korupsi semakin menjadi-jadi. Komitmen Jokowi dalam pemberantasan korupsi juga semakin kabur. Membuatku semakin ragu bahwa negara ini menjadi lebih baik.

Di saat yang sama, Komisi Pemberantasan Korupsi malah dilemahkan. Dalam pemilihan komisioner lembaga antirasuah itu, Jokowi malah membiarkan panitia seleksi meloloskan calon bermasalah. Aku khawatir hal ini akan semakin memperburuk kondisi negeri yang menurutku berada di “titik nadir.”

“Kalau aku malah lebih risau dengan isu ‘dalam negeri’, Wen,” kata Bang Awee. “Sudah terlalu lama provinsi ini dipimpin oleh pelaksana tugas. Alhasil, kerja jadi tak optimal. Bahkan aku dengar-dengar, gubernur sebelumnya tengah mengusahakan pengampunan dari presiden. Mereka kan diusung oleh partai yang sama.”

“Lho, memangnya kenapa? Tak berarti pelaksana tugas tak bisa berbuat untuk Aceh. Lagi pula tak mungkin ada pengampunan. Karena itu harus melalui persetujuan dewan. Kalaupun presiden setuju, kawan itu harus berharapan dengan DPR. Tak mungkin presiden mengintervensi terlalu dalam urusan dugaan korupsi. Bisa blunder dia,” kataku.

“Wen...Wen...apa yang tak mungkin di negeri ini. Cukup banyak hal mustahil terjadi di negeri ini. Mungkin saja Bung Nova tak jadi dilantik karena Bang Wandi diputuskan bebas. Atau dia tak akan dilantik sebagai gubernur definitif karena proses hukum yang panjang,” kata Bang Awee.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Sulit rasanya berdebat dengan Bang Awee. Tapi tetap saja, aku tak merasa antusias. Sama seperti perasaanku pada Jokowi saat ini.

Iklan Pemutihan BPKB- Pemerintah Aceh

Komentar

Loading...