Unduh Aplikasi

Politik dua muka

oleh Aryos Nivada

Tidak asing lagi telinga kita mendengar kata”politik dua muka”, bahasa Aceh-nya “Bubee Dua Jap” di asosiasikan orang yang munafik bersikap dan mengambil posisi yang jelas.

Ia berlutut dan tunduk ke sifat pragmatis dan oportunis, karena tujuan utama bagaimana kepentingan “interest” dirinya tercapai. Segala upaya dilakukan dan halal bagi mereka yang mempraktekan di segala dimensi tak hanya di politik saja keseharian kita terkadang menemukan praktek kelakuan tersebut.

Bagi sosok pemikir, David Runciman dalam bukunya “Poltical Hypocricy: The Mask of Power, from Hobbes to Orwell and Beyond (2010)” praktek politik dua muka mencerminkan karakter personal yang munafik, ia melihat pada dimensi politiknya. Karena bagi politikus mempraktekan politik dua muka sudah menjadi karakter “habitus”. Penekanan si Runciman politik muka dua berakar dari dunia teater dan agama.

Gelanggang politik dimaknai politikus sebagai teater yang bisa berpura-pura memainkan peran yang bukan dirinya sendiri. Bahkan acting-nya melebih artis papan atas ketika muncul di telenovella dan bioskop, dan lain-lain.

Fokus psikologis menjadi target kalangan politikus mempengaruhi konstituen atau rakyat yang mendukungnya.
Cara (method) beragam sangat tergantung keahlian si politikus itu sendiri, tetapi wujudnya kamuflase dan pencitraan. Bisa membangun image kesalehan sosial (pemberian dana bantuan sosial, membantu turun menolong korban banjir, dll) semua itu awalnya tidak pernah dilakukan si politikus. Tetapi “demi” meendapatkan kepercayaan dan dukungan politik konstituen atau rakyat segala cara dilakukan.

Ada lagi menerapkan cara yakni “kesalehan agama”, yang awalnya si politikus tidak bisa ceramah, mengaji, pergi rutin ke masjid, beramal untuk masjid, dan lain-lain. Semua itu demi meraih kepentingan politik semata dilakukan semua. Agama sudah berubah fungsi bukan mensalehkan dirinya sendiri karena kesadarannya, tetapi sudah menjadi alat komoditi politik dua muka bagi politikus.

Keseluruhan tindakan itu adalah fakta dari buruknya cerminan politik kita di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Pemilihan Legislatif (Pileg), dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Momentum tersebut rutin bagi politikus mempraktekan politik dua muka.

Tidak heran jikalau masyarakat apatis dan tidak memiliki trust lagi terhadap politikus, karena perilaku dua muka yang selalu diberikan contoh bagi konstituennya. Jangan heran juga rakyat atau konstituennya mencontoh politik dua muka ala politikus dalam kehidupan kesehariannya, bahkan ketika momentum Pemilu masyarakat/konstituennya melakukan politik dua muka guna meraih keuntungan finansial dan barang yang bisa diperoleh dari poltikus ketika ingin mendapatkan dukungan.

Sekarang diperlukan penyadaran bagi konstituen atau masyarakat melalui civic education dan political education. Kedua cara itu diharapkan konstituen atau masyarakat sebagai pemilih lebih cerdas dan tidak bisa ditipu dengan tingkah laku politikus yang mempraktekan politik dua muka.

Negara, partai politik, dan komponen masyarakat sipil berkewajiban melakukan dua pendekatan yaitu civic education dan political education bagi konstituen/masyarakat melalui pelatihan, diskusi komunitas, sekola demokrasi, sosialisasi kepemiluan.


penulis adalah pendiri Jaringan Survey Inisiatif

Komentar

Loading...