Unduh Aplikasi

Polisi yang Berkepribadian dan Spritualis

Polisi yang Berkepribadian dan Spritualis
Saifudddin Bantasyam. Foto: Ist

Oleh: Saifudddin Bantasyam

Dalam sebuah foto, tampak seorang polisi wanita (polwan) mengenderai motor membawa kotak suara untuk pemilu dengan menembus jalan penuh lumpur, yang bagi seorang laki-laki mungkin juga akan kepayahan melewatinya.

Di foto yang lain, seorang polwan sedang mengendarai motor melewati jembatan gantung, yang dalam kehidupan sehari-hari, membuat nyali ciut bagi siapa pun untuk melaluinya. Juga ada foto di media sosial, di mana seorang polisi (laki-laki) sedang memanggul kotak suara yang diikatkan pada bagian punggungnya menaiki bukit untuk menuju ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Atau potret seorang polisi yang mencium tangan seorang pemulung, kemudian foto polantas yang menggendong seorang anak berumur sekitar lima tahun yang selamat dari kecelakaan, berusaha menghibur anak tersebut dan mengalihkan perhatiannya dari lokasi kecelakaan.

Picture talks more. Foto berbicara lebih banyak. Semua potret perilaku polisi tersebut adalah potret yang sangat menyentuh perasaan bagi siapa pun yang melihatnya. Lalu apakah perilaku mereka itu muncul secara tiba-tiba? Mungkin ada yang muncul seketika atau spontan, namun perilaku demikian bisa juga tidak ujug-ujug muncul, melainkan lahir dari serangkaian proses internalisasi nilai-nilai yang kemudian menjelma menjadi suatu bentuk sikap, kepribadian, atau watak (menurut antropolog Koentjaranigrat) yang muncul dalam keadaan-keadaan yang berbeda secara konsisten.

Dengan konsistensi itu, maka walaupun mereka bukan berprofesi sebagai polisi, melainkan seorang anggota tentara, pegawai negeri, pedagang, akademisi, dan berbagai profesi lainnya, namun kepribadian yang baik itu (disiplin, tanggung jawab, kesiapan menghadapi tantangan, dan peduli) akan tetap muncul dalam diri mereka.

Blumer, seorang Sosiolog, mengatakan bahwa proses internalisasi nilai-nilai itu tumbuh dan berkembang karena adanya peran dari apa yang disebutnya sebagai agen sosialisasi. Agen-agen tersebut adalah: keluarga, teman bermain, sekolah, dan media massa. Dalam bahasa lain, watak atau kepribadian seseorang ditentukan sejak dari keadaan di rumah orang tersebut, dengan siapa dia bergaul, pendidikan apa yang ditempuhnya, di lingkungan mana seseorang bergaul, dan seterusnya.

Tak kurang pula daripada itu (dalam pembentukan kepribadian) adalah peran media massa yang menyajikan informasi-informasi atau berita-berita tertentu dan isinya sedemikian membekas dalam pikiran seseorang. Keseluruhan agen yang disebut Blumer itu memberi pengaruh yang kuat kepada bagaimana sejatinya kepribadian seseorang.

Bagi seorang polisi, kepribadian yang dimiliki harus lebih baik, bahkan di atas rata-rata dibanding individu lainnya. Dengan tugas dan wewenang yang dimiliki untuk menjaga ketertiban, menegakkan hukum, mengayomi dan melindungi masyarakat, polisi harus memiliki kepribadian yang dapat disebut sebagai kepribadian tanpa cela. Dengan cara itu, polisi tidak hanya mampu mengangkat citra dirinya pada tempat yang tinggi, melainkan juga dapat mengangkat citra lembaga tempat dia bekerja pada level yang membanggakan.

Seperti sudah disebutkan di atas, kepribadian tidak muncul secara tiba-tiba atau tidak turun dari langit. Sebagai sebuah produk budaya, kepribadian muncul karena berbagai alasan atau sebab. Kepribadian muncul karena ada pendorong, motiviasi, tujuan, yang disebut sebagai faktor anteseden (mengutip Tugimin dan Budi, 2016).

Menurut mereka, kepribadian adalah bagian dari jiwa, yang membangun keberadaan manusia menjadi satu kesatuan, tidak terpecah-belah dalam fungsi-fungsi. Memahami kepribadian, kata Tugimin dan Budi, berarti memahami “aku,” “diri,” atau “self” atau memahami manusia seutuhnya. Dengan pemahaman itu, seseorang kemudian menampakkan perilakunya ke lingkungan sosial dan menciptakan kesan orang lain kepada dirinya.

Masih menurut Tugimin dan Budi, ada beberapa kepribadian ideal yang sering diharapkan muncul. Diantaranya adalah openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman), conscientiousness (keteraturan, dapat diandalkan, pekerja keras, tepat waktu, cermat), esktraversion (memiliki jiwa sosial, aktif, banyak bicara, optimis, terbuka, jujur), dan agreeableness (individu yang lembut dan baik hati).

Mengutip pandangan Herman Kertawijaya, Tugimin dan Budi mengatakan bahwa spritualitas dan budaya organisasi menjadi sesuatu yang juga penting untuk memperkuat kepribadian (yang dengan demikian termasuk kepribadian seorang polisi di dalamnya). Herman menyebut istilah the ultimate stage (melakukan usaha 100% dan spritualitas 100% sekaligus), yang bermakna harus ada integrasi antar keduanya.

Bagi Herman, karyawan di dunia bisnis harus betul-betul menghayati nilai-nilai spiritual dalam proses membangun persepsi sekaligus menjadikannya sebagai kultur organisasi. Apa yang disebut oleh Herman Kertawijaya itu mungkin bertaut dengan psikologi transpersonalia, yang berkembang berdasarkan pada situasi dan kondisi di dalam masyarakat.

Beberapa waktu lalu, di youtube beredar pengarahan oleh seorang kepala polisi daerah (Kapolda) di sebuah provinsi kepada anak buahnya (di samping kepada masyarakat). Dalam pengarahannya, kapolda menekankan pentingnya anggota polisi menjalankan nilai-nilai agama atau tidak meninggalkan ibadah—yang bisa digolongkan sebagai sisi spritualitas.

Dengan kata lain, secara tidak langsung, Kapolda mengirimkan pesan bahwa agar aparatur kepolisian sukses, maka tidak hanya aspek kepribadian yang semata diperlukan melainkan juga ada sentuhan-sentuhan rohani. Ini yang kemudian disebut dengan polisi yang spritualis.

Menjadi polisi yang kuat secara spiritual adalah menjadi polisi yang tumbuh dengan keyakinan dan penuh percaya diri. Pada gilirannya nanti, untuk konteks kekinian dan di masa mendatang, menjadi kuat secara spiritual itu mampu mengangkat citra diri polisi dan lembaga tempat di mana polisi itu bekerja. Selamat HUT Ke-74 Bhayangkara!

Penulis adalah Dosen FH Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh

Komentar

Loading...