Unduh Aplikasi

Polisi Mulai Usut Dugaan Pelecehan Terhadap Pasien RSUDZA

Polisi Mulai Usut Dugaan Pelecehan Terhadap Pasien RSUDZA
Ilustrasi. Foto: Net

BANDA ACEH - Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Aceh telah memulai penyelidikan kasus dugan pelecehan seksual yang diduga menimpa pasien Rumah Sakit Dokter Zainal Abidin Banda Aceh. Polisi telah mengumpulkan informasi awal untuk menguatkan laporan ibu kandung korban.

"Kami sedang mengumpulkan informasi khususnya dari rumah sakit, karena korban belum bisa diperiksa," kata Direktur Reserse Kriminal Polda Aceh Kombes Pol Drs Sumarso, Selasa 17 Oktober 2017.

Menurut Sumarso, untuk memperkuat keterangan ibu kandung korban yang melaporkan dugaan pelecehan ke kepolisian, penyidik juga akan memeriksa rekaman kamera CCTV (Closed Circuit Television) tempat terjadinya tindakan pelecehan terhadap korban. Rekaman lanjut Sumarso menjadi bukti bagi penyidik untuk menguatkan ada tidaknya peristiwa tersebut.

"Kesaksian satu orang tanpa didukung kesaksian orang lain sama saja dengan nol. Untuk itu selain saksi korban, rekaman CCTV juga menjadi bukti menguatkan terjadinnya tindakan tersebut. Akan kami gali (informasi) sebanyak-banyaknya," kata Sumarso

Ia mengatakan dari proses penyelidikan awal, penyidik memperoleh informasi jika keluarga korban telah berdamai dan memiliki perjanjian dengan keluarga pelaku. Perjanjian yang diduga terjadi saat proses mediasi yang difasilitasi managemen RSUDZA tersebut, diduga sebagai upaya agar korban tidak melaporkan kasus tersebut ke kepolisian.

"Informasi dari anggota yang lidik, sebenarnya sudah ada perjanjian, tapi karena mintanya mahal tidak disanggup akhirnya dilapor polisi. Tapi itu akan kami perdalam, bener gak ada perjanjian. Tapi namanya perbuatan cabul tetap akan kami proses sebagaiman diatur Undang-undang Perlindungan Anak," kata Sumarso.

Dikatakan, penyidik juga akan membuktikan ada tidaknya unsur-unsur kekerasan yang menimpa korban, termasuk pihak yang berupaya mendamaikan korban dan pelaku. Upaya damai dinilai tidak semestinya dilakukan.

"Kenapa perbuatan cabul didamaikan harusnya dilaporkan. Itu (mendamaikan) juga kejahatan. Makanya sekarangkan sedang kami proses sesuai Undang-undang Perlindungan Anak, ada tidak ancaman kekerasan terhadap korban. Kalau memang aib atau malu itu persoalan lain, tapi kalau karena tidak sanggup bayar, kan gawat," kata Sumarso.

Lebih lanjut kata Sumarso, penyelidikan tersebut juga sekaligus untuk membuktikan jika SR merupakan pelaku pelecehan terhadap korban yang masih berusia 17 tahun. Untuk memastikan itu, pihaknyanya akan memeriksa petugas piket pada ruang pemulihan yang diduga sebagai tempat terjadinnya pelecehan.

"Kalau keterangan mereka kan (management rumah sakit) pelakunnya cleaning service (CS), makannya akan kami buktikan. Bagaimana bisa petugas CS masuk keruangan itu atau apa diperbolehkan pada jam-jam tertentu. Untuk pemeriksaan korban jika memang tidak mungkin akan diperiksa di rumah untuk mempercepat penyelidikan," pungkas Sumarso.

Kasus dugaan pelecehan menimpa pasien RSUDZA telah dilaporkan ke Polda Aceh dengan nomor LP/117/X/2-17/SPKT. Ibu korban mengatakan peristiwa terjadi 5 Oktober usai korban menjalani operasi, sekitar pukul 14.00 WIB. Pelaku diduga petugas kebersihan dan melakukan aksinya saat korban dibawa berada di ruang pemulihan pasca menjalani operasi telinga.

Saat itu korban yang telah dalam kondisi setengah sadar hanya mengenali pelaku (SR) dengan ciri mengenakan baju hijau dan bermasker, masuk ke ruangan dimana korban berada, dan berpura-pura memperbaiki selang infus di tubuh korban. Kondisi yang masih lemah usai operasi, membuat korban tak mampu melawan, sehingga pelaku sempat dua kali melakukan aksinya, hingga akhirnya korban terjaga.

Komentar

Loading...