Unduh Aplikasi

Polisi Jangan Diamkan Kematian Suryani

Polisi Jangan Diamkan Kematian Suryani
KEPOLISIAN tak boleh berlama-lama untuk memulai proses penyelidikan dan penyidikan. Jika untuk mengusut kasus kematian Suryani diperlukan laporan dari keluarga korban, itu telah dilakukan langsung oleh suami Suryani, Muslem Puteh. Seharusnya polisi tidak harus menunggu laporan karena kuat indikasi kasus ini memenuhi unsur kelalaian yang mengakibatkan hilangnya nyawa. Ini bukanlah delik aduan. 

Sedikit janggal jika kemudian Kepala Satuan Reserse dan Kriminal dan Kepala Kepolisian Resor Kota Banda Aceh mengaku tak mengetahui. Karena kasus ini sangat membangkitkan emosional masyarakat.

Jadi tanpa laporan pun, harusnya polisi bergerak cepat. Menyeret mereka yang diduga terlibat. Terutama manajemen Rumah Sakit Ibu dan Anak yang jelas-jelas mengabaikan keberadaan Suriyani yang tengah sekarat. Dari direktur hingga perawat yang mengurusi harus dimintai pertanggungjawaban.

Apapun alasannya, kelalaian rumah sakit ini jelas sangat tidak manusiawi. Di mana-mana, rumah sakit adalah tempat bersentuhan rasa sakit dengan kasih sayang. Hospitality; keramahan. Karena secara psikologis, kesembuhan seseorang juga tergantung dari interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Semakin nyaman mereka, akan semakin cepat pula kesembuhan datang.

Kasus kematian Suriyani ini menjadi bukti bahwa sejak lama rumah sakit kehilangan moral dalam memperlakukan manusia di rumah sakit. Mulai dari dokter hingga tukang parkir menganggap pasien adalah “keuntungan”. Semua yang bersentuhan dengan rumah sakit harus berhadapan dengan “peng tebit”. Semua.

Belum lagi pasien harus berhadapan dengan wajah jutek para perawat yang seolah-olah tak ingin ada satupun manusia yang sakit di rumah sakit. Bahkan tak jarang pasien hanya dianggap sebagai seonggok daging yang kesakitan. Mereka dianggap tak perlu empati dan simpati.

Padahal dua hal ini adalah keharusan yang melekat di rumah sakit. Seberapa pun rewelnya pasien, seorang perawat dan dokter harus mampu menghadapinya. Karena mereka berhadapan dengan kondisi yang tidak normal. Ada beberapa yang mampu menahan emosi, namun sebagian besar orang sakit tak lagi memikirkan penampilan. Karena hal terpenting bagi mereka adalah rasa sakitnya segera diangkat.

Sama seperti profesi polisi, perawat dan dokter juga harus mampu berpikir lebih panjang dan kesabaran yang lebih dalam. Karena profesi ini tidka diperuntukkan bagi orang-orang biasa. Dokter, tentara, perawat dan polisi adalah orang-orang pilihan. Karena itu, jika tak sanggup, lebih baik mundur. Ketimbang menambah “penyakit” di masyarakat.

Komentar

Loading...