Unduh Aplikasi

Polisi Bekuk Dua Sindikat Pengedar Uang Palsu Berstatus Pelajar

Polisi Bekuk Dua Sindikat Pengedar Uang Palsu Berstatus Pelajar
Polisi memperlihatkan tersangka dan barang bukti di Mapolres Lhokseumawe. Foto: AJNN/Sarina

LHOKSEUMAWE – Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Lhokseumawe membekuk dua tersangka berinisal MS (19) dan RD (17), keduanya terlibat dalam sindikat peredaran uang palsu di sejumlah daerah Provinsi Aceh.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ari Lasta Irawan mengatakan, kedua pelajar yang masih duduk di kelas satu dan dua SMA itu dibekuk pada 23 Februari lalu, di Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara.

“Keduanya mendapatkan uang palsu tersebut dari IB (30) warga Gampong Pante Panah, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, yang saat ini sudah ditetapkan ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO),” kata Kapolres didampingi Kasat Reskrim AKP Indra T Herlambang dan Kanit Tipiter Ipda Ahmad Anugerah Ari Pratama, saat konferesi pers, Selasa (25/2).

Dikatakan Kapolres, modus yang dilakukan oleh kedua tersangka yakni, setelah mengambil uang palsu di Aceh Timur, keduanya bergerak ke Syamtalira Bayu, kemudian mereka membelanjakannya dengan cara membeli suatu barang memakai uang palsu pecahan Rp20 ribu.

“Mereka melakukan transaksi menggunakan uang palsu, kemudian mendapatkan kembalian uang asli. Dan tersangka sudah melakukan sebanyak dua kali dalam tahun ini, pertama di Kota Langsa dan kedua di Aceh Utara,” ujar Kapolres.

Sambung Kapolres, kedua tersangka ditangkap setelah mendapatkan laporan dari salah satu pemilik kedai yang merasa tertipu dengan ulah kedua tersangka. Sehingga korban memutuskan untuk melaporkannya ke Polres Lhokseumawe.

“Setelah mendapatkan laporan tersebut, kami terus melakukan pengejaran terhadap tersangka, dan kami berhasil meringkus dua orang, sementara satu lagi akan terus diburu,” tuturnya.

Adapun barang bukti yang diamankan yakni, 55 lembar uang palsu pecahan Rp 20 ribu, 20 lembar uang Rp 10 ribu asli hasil kembalian, 57 lembar pecahan uang Rp 5 ribu asli, dan satu unit Honda Vario warna merah BL 6384 DAV.

Kedua tersangka terancam pasal 36 Ayat 3 Jo pasal 26 ayat 3 UU nomor 7 tahun 2020 tentang Mata Uang subsider UU 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak subsider Pasal 55 KUHP.

“Kenapa kita sangkakan pasal anak, karena satu diantaranya ada yang masih di bawah umur. Keduanya terancam hukuman penjara maksimal 15 tahun dan denda Rp 50 miliar,” imbuhnya.

Sementara pengakuan tersangka, upah yang mereka dapat dalam sekali transaksi uang palsu yakni, dalam Rp 1 juta, mereka mendapatkan setengahnya yaitu Rp 500 ribu.

Komentar

Loading...