Unduh Aplikasi

PN Meulaboh Sidangkan Kasus Dugaan Pengancaman Wartawan

PN Meulaboh Sidangkan Kasus Dugaan Pengancaman Wartawan
Sidang dugaan pengancaman terhadap wartawan dilakukan secara online. Foto: AJNN/Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Pengadilan Negeri Meulaboh menggelar sidang kedua atas kasus dugaan pengancaman terhadap wartawan Modus Aceh, Aidil Firmansyah, oleh direktur PT Akfi Tuah Utama, yakni Akrim.

Dalam kasus dugaan pengacaman tersebut Akrim dijerat pasal 335 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Sidang perdana dengan pembacaan dakwaan telah berlangsung Selasa pekan lalu.

Sidang dugaan pengancaman terhadap wartawan Modus Aceh, Aidil Firmansyah yang berlangsung pada Selasa, (28/4) dengan agenda pemeriksaan terhadap saksi korban serta saksi meringankan terhadap Akrim yakni Safrizal, Yatno dan Azhari.

Di hadapan majelis hakim yakni Zulfadly selaku ketua majelis, serta Irwanto dan M Tahir selaku hakim anggota, Aidil Firmansyah mengaku saat peristiwa tersebut terjadi ia bertemu terdakwa di kantor Tuah Akfi Utama, yang berada di Desa Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat.

Saat peristiwa terjadi pada tanggal 5 Januari 2020,  kepada majelis hakim Aidil mengaku keberadaannya di Kantor Tuah Akfi dijemput oleh Safrizal dan Yatno.

“Saat itu saya dijemput yang mulia. Saat sedang duduk dan berbincang dengan Kabag Humas Pemda Aceh Barat di street Kopi, yang berada di Kuta Padang,” kata Aidil.

Saat itu Safrizal dan Yatno, kata dia, menghampirinya dan mengajak bertemu Akrim untuk klarifikasi berita yang ditayangkan di Modus Aceh, terkait dengan pengerjaan tiang pancang.

Sebelumnya, kata dia, Akrim memang sempat minta bertemu dirinya yang dikirim melalui pesan WhatsApp. Namun karena pesan WA itu tendensius membuat ia takut dan tidak berani.

“Saat sampai disana akrim menyodorkan surat berisi ajakan duel. Saat itu kata dia ayo kita duel siapapun yang menang masalah ini selesai di sini," cerita aidil meniru ucapan Akrim.

Namun ajakan tersebut ditolak Aidil. Lalu Akrim membuka laci mejanya, dan mengangkat gagang pistol berwarna hitam, dan seketika itu juga, kata dia, Yatno merebut benda berbentuk senjata api itu, dan meletakkan dibalik lingkar celana bagian punggung.

Saat itu Aidil mengaku sempat memeluk Yatno dari depan karena panik dan takut, kemudia ia kembali duduk dan Akrim kembali mengajak duel.

“Kamu lihat kan punya saya, dengan itu nanti kamu saya habisi,” kata Aidil kepada majelis hakim mengulang pernyataan Akrim.

Lalu setelah itu, kata dia, barulah Akrim menyodorkan surat permohonan maaf, dan ia mengaku terpaksa menandatangani lantaran buru-buru pulang.

Keterangan Aidil terkait senjata api langsung dibantah Akrim di depan majelis hakim dalam sidang itu.

Akrim mengatakan, dirinya tidak mengambil senjata api dari lacinya. Menurut Akrim, senjata api tersebut hanya senjata api mainan, dan tidak mungkin ia mengeluarkannya.

Namun dengan tegas ketua majelis, Zulfadly langsung memotong pembelaan Akrim. Hakim bertanya apakah benar senjata yang disebutnya itu mainan berada di lacinya?

Akrim pun mengakui jika senjata tersebut benar berada di lacinya namun tidak mengangkatnya sebagaimana diceritakan oleh Aidil.

Komentar

Loading...