Unduh Aplikasi

Plintat-Plintut Malu Hati

Plintat-Plintut Malu Hati
ilustrasi

GUBERNUR Aceh Irwandi Yusuf mencabut Peraturan Gubernur tentang Mediasi Pusat Aceh dan Surat Keputusan pembentukan Tim Pusat Mediasi Aceh. Hal yang sama juga terjadi saat mencabut surat pergantian Kepala Balai I Aceh, Fathurrahman, setelah surat penunjukannya dikirimkan kepada Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Sebelumnya, Irwandi menilai perlu pergantian pejabat untuk percepatan pembangunan jalan-jalan negara di Aceh. Pemerintah Aceh merasa perlu meningkatkan kerja sama dengan Balai Jalan Nasional I Aceh. Penunjukan ini adalah penyegaran. Namun pada 18 September 2017, surat ini dibatalkan.

Kasus lain: seleksi pejabat di Badan Pengusahaan Kawasan Sabang. Pada 4 Desember 2017, panitia seleksi mengumumkan 12 nama peserta lulus tes. Namun sehari kemudian, diduga, Pemerintah Aceh, meminjam tangan pansel, mengeluarkan keputusan baru dan mencabut SK sebelumnya.

Melalui SK baru, pansel meluluskan semua peserta seleksi yang berjumlah 20 orang dan mereka akan mengikuti tes kepatutan dan kelayakan. Dan hingga kini, nasib para kandidat itu tak jelas.

Sikap inkonsisten ini jelas menunjukkan ketidakmatangan Pemerintah Aceh dalam mengambil kebijakan. Harusnya, setiap kebijakan itu diambil dengan matang. Tidak dilakukan atas dasar intuisi atau perasaan bersifat subjektif yang mudah terpengaruh.

Keputusan pemerintah, yang memiliki sumber daya manusia dan uang tak terbatas, harusnya diambil berdasarkan pengalaman. Rentetan pembatalan ini menunjukkan ketidakmatangan dalam bersikap. Pemerintah gamang dan tak paham memperkirakan keadaan--memperhitungkan untung rugi, baik buruk--dari keputusan yang dihasilkan.

Harusnya keputusan, apapun namanya, diambil berdasarkan akal sehat, solid, dan baik. Juga dilakukan setelah mengumpulkan dan menganalisis data yang relevan. Menemukan dan merumuskan masalah sebelum memutuskan tindakan. 

Dengan demikian, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah semakin besar. Dan orang-orang yang tersangkut keputusan itu menerima dengan lapang dada. Bukan malah makan hati. Apa tidak malu dicap plintat plintut. 

Komentar

Loading...