Unduh Aplikasi

Pilih Masjid Mewah Atau Rumah Duafa

Pilih Masjid Mewah Atau Rumah Duafa
Ilustrasi: aljazeera.

PEMERINTAH Kabupaten Pidie berencana melanjutkan pembangunan Masjid Agung Al-Falah. Tahun ini, mereka mengalokasikan anggaran sebesar Rp 28,1 miliar untuk pembangunan lanjutan masjid yang berada di pusat Kota Sigli itu. 

Pembangunan masjid tersebut mulai pada 2015. Saat itu, Pidie dipimpin oleh Sarjani Abdullah. Anggaran pembangunan lanjutan masjid itu akan menggunakan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA). Jumlah anggaran yang habis digunakan untuk pembangunan mesjid tersebut hingga 2020, dari tahap I hingga VIII, sebesar Rp 104 miliar. 

Hingga 2020, realisasi pembangunan masjid ini baru mencapai 40 persen. Pemerintah kabupaten memperkirakan masjid ini akan selesai di akhir tahun 2022 mendatang dengan jumlah dana tambahan lebih dari Rp 100 miliar lagi, itupun kalau dana tersedia. Jika tidak, maka pembangunan masjid ini molor lagi.

Bagi umat Islam, masjid adalah pusat aktivitas. Tak heran jika di Aceh banyak masjid yang bagus, mulai dari sisi kemegahan hingga arsitektur. Namun yang sering kali dilupakan adalah membangun masjid yang mewah dengan arsitektur megah bukan kewajiban.

Dalam agama, yang diwajibkan itu adalah membantu orang miskin. Memberikan hak kepada mereka untuk mendapatkan kelayakan hidup, seperti orang-orang lain. Membangunkan mereka rumah yang layak huni dan memberikan akses pelayanan dasar yang mereka butuhkan untuk hidup dan menjalani kehidupan. 

Kita sering kali terjebak dengan menggambarkan bahkan keagungan Islam itu berada di bangunan masjid yang indah dan megah. Lantas, perlahan-lahan kita menganggap Tuhan itu adalah sesuatu yang mewah. Kita mematerikan Tuhan sama seperti memburu materi itu sendiri. Alhasil, kita baru bisa merasakan kenikmatan saat memperoleh barang-barang mewah, tak terkecuali sebuah bangunan masjid. 

Di negeri yang mengklaim bersyariat Islam ini, harusnya orang-orang miskin--golongan ini sangat dicintai Rasulullah Muhammad saw--mendapatkan tempat nomor satu. Anak-anak yatim yang miskin seharusnya tidak dianggap sebagai pelengkap acara yang dibariskan untuk sekadar menerima sangu dari pembuat acara. 

Segala kebijakan yang diambil pemerintah seharusnya menghindarkan semua warga dari pemiskinan. Menghindarkan masyarakat dari pemiskinan akibat bencana yang berulang-ulang, atau pemiskinan karena kesulitan akses ekonomi akibat harga kebutuhan pokok yang terus naik dan menjepit. 

Para pemimpin seharusnya menghindarkan rakyat dari pemiskinan dengan membuat aturan yang menjamin hasil panen dan ternak dibeli dengan harga yang wajar. Keputusan-keputusan politik yang diambil para politikus di setiap tingkatan pemerintahan seharusnya berpegang pada keinginan untuk membahagiakan anak-anak yatim. 

Membangun masjid yang megah dan mewah bukan sesuatu yang haram. Kita boleh belajar dari Nabi Sulaiman as yang memiliki kekayaan luar biasa. Namun kita harus juga belajar dari sosok Nabi Muhammad saw yang sangat mencintai orang-orang miskin. 

Dengan menempatkan skala prioritas pembangunan, para pemimpin mengajarkan bahwa bersyariat Islam itu tidak perlu materi yang berlebihan. Karena yang dibutuhkan adalah kepedulian untuk tidak membiarkan rakyat kelaparan, terancam nyawa, dan hidup dihimpit beragam kesusahan. 

Membangun masjid besar dengan anggaran ratusan miliar rupiah memang tak masalah. Tapi itu seharusnya dilakukan setelah seluruh rakyat miskin di Aceh tidak lagi tinggal di rumah yang tak layak huni. Kita seringkali menganggap membangun masjid mewah adalah kecintaan terhadap agama. Padahal itu hanya wujud penghambaan kita terhadap materi.

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...