Unduh Aplikasi

PHRI Aceh: Hampir Semua Hotel Tutup Sementara Selama Corona

PHRI Aceh: Hampir Semua Hotel Tutup Sementara Selama Corona
Ilustrasi Hotel. Foto: Net

BANDA ACEH - Hampir seluruh hotel di Aceh mengalami kondisi yang sama akibat dampak penyebaran virus corona (Covid-19). Mereka terpaksa harus menutup usaha untuk sementara waktu, bahkan merumahkan karyawan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Aceh, Yusri Syamaun mengatakan, secara prinsip semua hotel sudah menghentikan aktivitas sementara waktu. Kalau ada yang buka, itu hanya sebatas untuk menjaga gedung saja.

Baca: Efek Corona, Hotel Kriyad Banda Aceh Rugi Rp 1,2 Miliar

"Kalau secara prinsipnya semua tutup itu. Hotel (di Aceh), kecil besar lebih kurang sekitar 500 san," kata Yusri saat dikonfirmasi AJNN, Sabtu (11/4).

Menurut Yusri, pengaruhnya karena memang faktor kurangnya pengunjung, serta pembatasan terkait tidak dibolehkannya orang-orang keluar daerah sementara ini.

"Iya bukan lagi kurang pengunjung, memang tidak ada pengunjung, kalau kita layani cuma satu orang. Itu kan mempengaruhi, semua itu persoalannya," ujarnya.

Beberapa hotel besar khususnya di Banda Aceh seperti Hermes Palace, Kriyad Muraya, Grand Naggroe serta beberapa tempat penginapan lainnya sudah ditutup sementara waktu, dan merumahkan karyawannya.

Seperti hotel Hermes Palace Banda Aceh, General Manager Hermes Palace Hotel, Budi Syaiful mengatakan, hotel terbesar di Aceh itu terpaksa ditutup sementara waktu karena kondisi Covid-19, serta adanya imbauan dari pemerintah terkait sosial distancing dalam rangka pencegahan penyebaran virus tersebut.

Baca: Hotel Hermes Tutup Sementara, 130 Karyawan Dirumahkan

Selain itu, kata Budi, kunjungan juga rendah pada minggu terakhir bulan Maret 2020 lalu. Saat itu, tidak sampai 10 kamar yang terpakai.

"Karena kita ikut imbauan dari pemerintah, juga untuk social distancing dan lain sebagainya. Kemudian, kita memang di akhir Maret, kunjungan juga rendah, dibawah 10 kamar gitu," kata Budi Syaiful saat dikonfirmasi AJNN, Jumat malam (10/4).

Kemudian, Manager Operasional Hotel Grand Nanggroe, Muhammad Hartanto Budiman menyampaikan, pihaknya sudah sejak 20 Maret 2020 menghentikan aktivitas akibat dampak virus corona. Serta mengikuti instruksi pemerintah Aceh terkait tidak diizinkan adanya keramaian.

Untuk karyawan Grand Naggroe, sudah dirumahkan sebanyak 80 persen. Saat ini yang bertugas hanya 15 orang secara bergantian sesuai jadwal piket.

"Sekitar 60 orang yang dirumahkan, gaji mereka tidak dibayar sementara ini, hanya 15 orang yang masih bertugas saja. Nanti para karyawan akan dipanggil kembali," ujarnya.

Selain itu, hotel berbintang lainnya, yakni Kriyad Muraya mengalami kerugian pada Maret 2020 sebesar Rp 1,2 miliar.

General Manager Kyriad Muraya Hotel Banda Aceh, Bambang Pramusinto mengatakan, akibat dampak Covid-19 pihaknya telah merugi Rp 1,2 miliar bulan Maret lalu. Bahkan, pada bulan April 2020 ini diperkirakan mereka kembali mengalami kerugian sebesar Rp 3 miliar.

"Tingkatan hunian hotel terperosok dalam. Bulan Maret kita rugi Rp 1,2 M. April ini diprediksi akan rugi Rp 3 miliar," kata Bambang Pramusinto saat dikonfirmasi AJNN, Sabtu (11/4).

Karena itu, dirinya meminta kepada Pemerintah Kota Banda Aceh untuk mengambil langkah tertentu seperti pembebasan semua pajak, BPJS, stimulus dari Perusahaan Listrik Negera (PLN), relaksasi perbankan bisa segera terealisasi, bukan hanya wacana di pusat, serta subsidi atau insentif terhadap karyawan perhotelan.

Komentar

Loading...