Unduh Aplikasi

Petani cengkeh di Simeulue terancam rugi

Petani cengkeh di Simeulue terancam rugi
Cengkeh, Foto Septian
SIMEULUE-Faktor curah hujan di akhir tahun kian tinggi membuat buah cengkeh di Simeulue tidak bisa kering dan terancam "matemek" sebelum kering. Buah banyak tenaga kerja kurang. Akankah produktivitas cengkeh meningkat keuntungan berkurang.

Musim panen merupakan istilah yang dipakai warga di pulau itu untuk menyebut panen cengkeh. Sebab, pulau itu hanya terkenal dengan pohon cengkeh sebagai andalan penghasil uang di bidang perkebunan. Tanaman penghasil uang ini merupakan tanaman peninggalan orang-orang tua terdahulu. Sayangnya, tanaman tadi jarang dikembangkan atau ditanam kembali. Penerus keturunan sebagai pewaris kebun cengkeh hanya bisa bergantung pada hasilnya saja dan jarang melakukan penanaman kembali serta perawatan terhadap pohon cengkeh tersebut.

Hal itu terjadi akibat anjloknya harga cengkeh di tahun 1980-an. Pemilik cengkeh banyak yang tidak menghiraukan tentang kesuburan tanaman penghasil uang tadi. Bahkan, saat krisis moneter melanda Indonesia, banyak warga Simeulue hijrah keluar daerah. Status ekonomi menengah keatas mendadak menurun, hijrah ke luar daerah hingga menjadi kuli di negeri orang.

"Dulunya kondisi moneter membuat kebanyakan orang dari Simeulue mencari pekerjaan keluar daerah sebagai kuli bangunan atau tukang becak dayung. Sehingga cengkeh kurang dihiraukan apalagi harganya Rp 3000-4000 per kg," ujar seorang pembeli cengkeh Syahrim.

Kini pohon cengkeh mulai kembali berjaya. Panen raya yang jarang terjadi saat ini diharapkan dapat mendongkrak penghasilan warga di daerah tersebut. Panen cengkeh yang serentak terjadi ini membuat pemilik pohon cengkeh kalang kabut. Sebab, kurangnya tenaga kerja untuk memanen buah mengakibatkan buah banyak gugur sebelum dipetik.

Pada hal, banyak tenaga kuli bangunan dan pekerja lainnya meninggalkan pekerjaan untuk memetik cengkeh, akan tetapi belum bisa menyelamatkan buah cengkeh. Buah yang dijadikan tembakau rokok ini ketika saatnya udah bisa dipanen hanya bisa bertahan 2 hingga 3 bulan setelah itu buahnya akan mengembang hingga jatuh ke tanah.

Selain persoalan kurangnya tenaga pemetik cengkeh, kondisi cuaca hujan menjadi penyebab pemilik buah cengkeh terancam rugi. Pasalnya, buah cengkeh yang memiliki harga mahal sesuai harga pasaran adalah cengkeh kering yang berwarna kehitam-hitaman. Akan tetapi, curah hujan tinggi yang terjadi di penghujung tahun ini membuat buah cengkeh tidak bisa dijemur akibatnya buah tadi "matemek" alias lembab dan warnanya coklat bercampur putih.

"Cengkeh saya terancam matemek sebanyak 40 kg karna warnanya sudah mulai coklat bercampur putih. Jangan tanya buah cengkeh yang belum dipanjat, kemungkinan setengah tidak dapat dipanjat karena tidak ada orang yang manjat. Habis rata-rata punya pohon cengkeh juga," keluh Juliadin warga Kahad.

Harga cengkeh saat ini berkisar Rp 105.000 per kg, sedangkan harga cengkeh matemek Rp 70 ribu per kg. Harga tersebut telah menurun dibandingkan tahun sebelumnya Rp 125 ribu per kg.

Meskipun begitu, panen raya cengkeh di Simeulue ternyata berdampak kepada rekanan. Beberapa rekanan mengeluh karena kurangnya tenaga kerja bangunan. Sementara, kondisi proyek di akhir tahun ini banyak terancam putus kontrak sebab belum rampung.

SEPTIAN

Komentar

Loading...