Unduh Aplikasi

Petani Aceh Singkil Kembali Blokade Jalan Menuju Delima Makmur

Petani Aceh Singkil Kembali Blokade Jalan Menuju Delima Makmur
Sejumlah petani memblokade jalan menuju ke PT. Delima Makmur

ACEH SINGKIL - Larangan melintas di areal Hak Guna Usaha (HGU) dengan membawa bibit kelapa sawit oleh PT. Delima Makmur kepada para petani yang hendak menuju ke lahan garapan mereka berbuntut panjang, Senin (22/1) puluhan petani yang dilarang lewat di pos masuk kawasan HGU kembali memblokade jalan.

Baca: Dilarang Lewati Areal PT Delima Makmur, Petani Tutup Jalan ke Arah HGU

Kali ini, blokade jalan menuju PT. Delima Makmur itu dilakukan para petani di dusun Lae Tangga, Desa Telaga Bhakti, Kecamatan Singkil Utara, Aceh Singkil, tepatnya di areal perkampungan antara HGU PT. PLB dengan Delima Makmur.

Tak hanya dengan menggunakan kendaraan bermuatan bibit kelapa sawit, kali ini para petani memblokade jalan dengan memasang portal dengan batang pohon pinang dan balok. Mobil perusahaan dilarang melintas.

"Sebelum ada kejelasan blokade akan tetap kami lakukan, kalau mereka bisa melarang kami, kami juga bisa melakukan hal yang sama, mobil yang berkaitan dengan perusahaan tidak kami izinkan lewat, kendaraan masyarakat boleh," kata Surianto salah satu petani.

Para petani mengaku tidak akan membuka blokade sebelum ada kejelasan atas sengketa lahan garapan mereka dengan PT. Delima Makmur. Mereka menilai larangan melintas di areal HGU dengan membawa bibit merupakan tindakan diskriminatif.

"Kami minta kejelasan, pemerintah kami minta cepat tanggap mencari solusi atas persoalan kami ini, kalau perusahaan mengklaim areal yang selama ini kami garap itu HGU mereka, kami juga nyatakan bahwa itu lahan kami, kami membuka hutan, sehingga tidak ada hak perusahaan melarang kami bercocok tanam," ujar Surianto.

Terpisah Kapolres Aceh Singkil, AKBP. Ian Rizkian membenarkan aksi gabungan Kelompok tani itu, kata Kapolres selain memblokade jalan para perani dari kelompok tani Maju Bersama, Suka Damai dan Perkumpulan Tani Sidodadi Makmur juga mendirikan pos dan tenda di lokasi.

"Mereka melarang mobil operasional perusahaan melintasi jalan tersebut, situasi kondusif dan sekarang sedang dilakukan mediasi, "kata Kapolres.

Sebelumnya, Selasa (16/1) lalu, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Singkil menggelar rapat mediasi antara petani dengan pihak PT. Delima Makmur, namun rapat yang juga dihadiri pemerintah daerah itu tidak menemukan solusi.

Pihak perusahaan yang kala itu dihadiri oleh Humasnya yakni Rahmatullah dan bebarapa orang lainya tetap tidak mengizinkan petani melintas dengan membawa bibit yang hendak ditanam di areal SK IV, karena mereka mengklaim lahan garapan kelompok tani itu masuk dalam HGU perusahaan mereka.

Sebaliknya para petani juga mengklaim lahan yang mereka garap sejak tahun 2006 itu milik mereka yang sah, sebab saat mereka memulai mengelolanya, lahan itu masih merupakan hutan belantara. Terlebih selama ini sebelum PT. Delima Makmur berganti Managemen mereka tidak pernah dilarang bercocok tanam.

DPRK sendiri telah meminta kedua belah pihak untuk menyerahkan dokumen lahan yang di sengketakan tersebut agar solusi penyelesaian sengketa segera dapat dilakukan. Sayangnya dalam rapat tersebut kedua belah belum menyerahkan dokumen alas hak yang diminta DPRK.

Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...