Unduh Aplikasi

Petaka di Danau Toba

Petaka di Danau Toba
ilustrasi: healt zone

NAMA Tri Suci, 23 tahun, warga Aceh Tamiang, tertulis di papan pengumuman nama-nama korban KM Sinar Bangun. Kapal ini tenggelam di Danau Toba, dua hari lalu, saat berlayar dari Tigaras, Parapat, ke Pulau Samosir. Hingga kini, 65 orang yang dilaporkan hilang oleh keluarga mereka masih terus dicari.

Upaya penyelamatan terhalang buruknya cuaca. Angin kencang mengakibatkan gelombang di danau terbesar di Indonesia itu tinggi. Kepolisian setempat mengatakan kapal itu berlayar tanpa manifes. Artinya, tak ada jumlah pasti penumpang yang dikantongi oleh otoritas pelayaran penyeberangan itu.

Kapal ini diduga kelebihan muatan; baik itu penumpang atau barang dan kendaraan. Dalam cuaca buruk, ini adalah perpaduan sempurna untuk mendatangkan petaka. Padahal, kantor Badan Meteorologi dan Geofisika setempat memperingatkan tentang buruknya cuaca ini kepada otoritas penyeberangan. Namun diabaikan.

Di saat-saat seperti Idul Fitri sekarang, angkutan umum memang memiliki kesempatan untuk mendulang keuntungan besar. Ini adalah saat para pengelola armada, baik itu di darat, laut/danau, atau udara, panen. Mereka memanfaatkan animo masyarakat yang butuh berlibur. Keselamatan, yang seharusnya menjadi pertimbangan awal sebelum memulai perjalanan.

Operator penyelenggara perjalanan sering kali berkilah dengan menyalahkan penumpang. Saat terjadi kecelakaan, mereka berlindung di balik desakan penumpang enggan menunggu lebih lama untuk mendapatkan servis. Padahal, mereka, para operator perjalanan, memahami pasti regulasi yang berlaku. Terutama terkait keselamatan transportasi.

Pengalaman buruk ini harusnya menjadi pelajaran bagi seluruh pihak yang berurusan dengan transportasi. Bahwa tak ada yang lebih berharga dari nyawa manusia. Kelalaian, sekecil apapun akan berdampak buruk. Apalagi ada aturan yang jelas terkait keselamatan bertransportasi.

Terkait insiden di Danau Toba, kepolisian harus mengusut tuntas. Mereka harus mencari orang-orang yang bertanggung jawab atas perjalanan kapal tersebut di cuaca buruk dan dalam kondisi kelebihan muatan. Jangan hanya melimpahkan kesalahan kepada nakhoda. Kecelakaan ini terjadi karena kelalaian pemerintah dalam menjalankan aturan dan memastikan keselamatan transportasi.

Apalagi, hari ini diperkirakan menjadi puncak arus balik ke Aceh. Pemerintah harus lebih peduli terhadap hal-hal mendasar terkait keamanan dalam berkendara. Pastikan bahwa seluruh pemudik atau mereka yang bersentuhan langsung dengan pemudik dan wisatawan menaati aturan keselamatan itu. Cukuplah Tri dan puluhan korban Sinar Bangun mengalami hal buruk akibat kelalaian administrator pelabuhan dan lembaga yang mengawasi moda transportasi itu.

Komentar

Loading...