Unduh Aplikasi

Pesan di Balik Bencana

Pesan di Balik Bencana
Foto: Ist

Oleh: Nelliani, M.Pd

Memasuki tahun 2021 Indonesia dilanda bermacam musibah bencana. Pandemic covid 19 belum berakhir, rakyat Indonesia kembali harus menghadapi berbagai musibah lainnya. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), pada 1-16 Januari 2021 telah terjadi 136 bencana alam di Indonesia. Mayoritas bencana disebabkan oleh faktor kondisi alam seperti hujan deras, cuaca ekstrem, tanah longsor, gempa bumi, banjir dan lainnya.

Bencana di beberapa daerah telah menimbulkan puluhan korban jiwa, harta dan kerusakan tempat tinggal serta ribuan orang harus mengungsi untuk berlindung. Longsor di Sumedang telah merenggut 40 korban jiwa (kompas.com/19/01/2021) dan menyebabkan kerusakan rumah warga. Berdasarkan data BPBD provinsi Kalimantan Selatan, tercatat 256 ribu jiwa terdampak banjir dahsyat yang menerjang 13 kabupaten di daerah tersebut (jawapos.com/19/01/2021). Disaat hampir bersamaan, gempa dengan Magnitudo 6,2 mengguncang Majene dan Mamuju Sulawesi Barat yang menelan 81 korban jiwa.  

Para ahli dan ilmuwan boleh saja berpendapat rentetan bencana yang terjadi merupakan suatu proses fenomena alam, namun sebagai seorang muslim kita harus melihat setiap kejadian tersebut dari kaca mata iman. Bencana dan musibah merupakan kehendak Allah SWT yang dengannya disampaikan beragam hikmah dan pengajaran. Sebab tidak ada suatu kejadian pun yang terjadi di muka bumi  dengan sia-sia tanpa kebaikan dan tujuan tertentu yang menyertainya. Sebagaimana firmanNya, “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala apa yang ada diantara keduanya dengan main-main” (QS. Al-Anbiya: 16). 

Bagi seorang muslim, terjadinya suatu bencana atau musibah dapat dimaknai membawa dua pesan spiritual yaitu sebagai bentuk ujian dan peringatan. Sebagai ujian, bencana merupakan cara Allah dalam menguji hambaNya yang beriman. Setiap orang beriman akan diuji dengan berbagai cobaan dan musibah, kesusahan dan kesenangan, rasa lapar dan kenyang, lapang dan sempit, sehat dan rasa sakit. Apakah ia mampu bersabar dalam kesempitan dan derita atau sebaliknya. Dan apakah dia mampu bersyukur dalam segala kelapangan dan suka cita atau sebaliknya. 

Mengenai hal itu, telah ditegaskan dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3 yang artinya, “ Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan : ‘kami telah beriman’ dan mereka tidak diuji?. Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang berdusta”. 

Pesan kedua dapat dipahami sebagai bentuk peringatan/teguran bagi hambaNya yang lalai. Manusia merupakan makhluk ciptaanNya yang sempurna karena dibekali akal dan pikiran. Kedua keistimewaan tersebut seharusnya menjadi sarana untuk berbakti kepadaNya, mampu bermanfaat bagi sesama dan alam sekitar. 

Musibah bisa jadi menimpa karena kita tidak mampu lagi menjaga hubungan baik dengan Pencipta, sesama dan alam sekitar. Kesibukan duniawi telah melalaikan kita dari urusan akhirat. Bukankah Dia tidak melarang manusia berpikir untuk dunianya, namun jangan sampai kecintaan kepada dunia menghilangkan kecintaan kepada Penciptanya. 

Hubungan sosial semakin berjarak

Bencana seakan membawa pesan ada sesuatu yang bermasalah dalam hubungan sosial kita akhir-akhir ini. Sebagai makhluk sosial kita hidup saling berhubungan dan membutuhkan orang lain. Sifat tolong menolong, saling menghargai dan menghormati, mudah memaafkan sudah menjadi tradisi dari kehidupan kita sejak dulu. Namun, rasa persaudaraan antar sesama semakin kering dan berjarak. Mudahnya menebar kebencian di media sosial, gemar mencari kesalahan saudara sendiri, tidak saling menghormati perbedaan pandangan seakan menjadi kebiasaan baru dari kehidupan di era digital. Tanpa disadari, perilaku-perilaku tersebut justru membawa kita berada dalam suasana yang gaduh dan jauh dari harmonis.

Teguran Allah SWT melalui berbagai musibah juga menyampaikan pesan bahwa selama ini kita tidak lagi ramah terhadap lingkungan dan alam. Padahal alam dan segala isisnya diciptakan untuk keberlangsungan hidup dan kesejahteraan manusia. Hutan yang berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem dieksploitasi untuk kepentingan industri, kebiasaan buang sampah sembarangan tanpa menyadari bahwa limbah-limbah tersebut dapat mencemari lingkungan dan berbahaya bagi makhluk hidup lainnya, pembakaran hutan, merupakan contoh perilaku manusia yang dapat mengundang bencana. 

Melalui berbagai musibah, mari sejenak bermuhasabah diri. Adakalanya perbuatan, ucapan, bahkan pikiran yang mungkin tersalah tanpa kita sadari. Berhenti sejenak unuk menengok kebelakang sejauh mana ketaatan kita sebagai hamba kepada penciptanya, sejauh mana kita menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama dan sebaik apa perilaku kita menjaga alam semesta. 

Penulis adalah Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar

Komentar

Loading...