Unduh Aplikasi

Pesan dari Atjeh Hotel

Pesan dari Atjeh Hotel

Oleh:  Muhammad Alkaf *

Hemat saya, ada dua tempat lain yang dapat dijadikan oleh pasangan Zaini Abdullah dan Nasruddin (AZAN) untuk konfrensi pers mengenai keikutsertaan-nya dalam Pilkada 2017. Pertama, adalah Gunung Halimon. Tempat itu tentulah bersejarah baginya, karena bersama Hasan Tiro, dia ikut mendeklarasikan perlawanannya dengan negara Indonesia.

Kedua, di halaman Masjid Daud Beureuh, Bereuneun. Dipilihnya tempat itu tidak mengada-ada, mengingat kedekatan Zaini Abdullah  dengan pemimpin Aceh di awal kemerdekaan Indonesia itu. Pun mengingat, secara genealogis, Tgk. Abdullah Teurube merupakan lingkaran dekat dari Daud Beureuh. Abdullah Teurube sendiri merupakan ayahanda dari Zaini Abdullah.

Namun kenyataannya tidak, Zani Abdullah lebih memilih halaman Atjeh Hotel, sebagai tempat dia melakukan konfrensi pers tersebut.

Lalu apa yang dapat disimak dari parade politik demikian. Melalui pidato politiknya yang lugas, dimuat secara lengkap di www.ajnn.net/31 Juli 2016, kita dapat dengan cepat menangkap makna yang hendak disampaikan oleh Zaini Abdullah, yaitu tentang garis panjang pertautan sejarah antara Aceh dengan Indonesia yang panjang.

Dalam pidato itu, memang berkali-kali Zaini Abdullah menyebut nama Hasan Tiro, akan tetapi lebih kepada sandaran moralnya, atau bahkan sebagai sandaran politiknya saja. Perhatikan salah satu kutipan pidatonya berikut ini — yang seperti hendak menunjukkan, kepada siapa kursi gubernur itu harus diberikan:

“Jikalah jabatan yang saya inginkan, jikalah kursi Gubernur yang saya dambakan, tentu saya tidak akan berbaris bersama seorang yang keras seperti Wali Hasan Tiro. Saya bisa saja memilih jalan lain yang lebih aman dan nyaman. Tapi disaat usia dan tubuh saya masih muda, saya memilih menjadi bagian dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM).”

Namun sosok Hasan Tiro hanya berhenti sampai disitu saja. Tidak ada sebuah tafsir kesejarahan yang lebih mendalam tentangnya, kecuali hubungannya dengan perdamaian. Malah, pesan tentang Atjeh Hotel itu yang lebih kuat dan lebih nyaring suaranya. Bahkan bergema dari atas menara Mesjid Raya Baiturrahman yang berada di depannya. Di halaman Atjeh Hotel itu pula, yang akhirnya telah memberi timbangan politik untuk Zaini Abdullah.

Atjeh Hotel adalah sebuah bangunan yang dulunya telah memberikan fragmen-fragmen kesejarahan yang panjang untuk Aceh. Ketika menyebutkan nama bangunan itu, maka dalam lintasan pikiran orang Aceh yang telah mengendap, langsung terbayang tentang janji dan komitmen bersama membangun negeri baru, yang bernama Indonesia. Bayangan itu adalah tangisan Presiden Sukarno, Maklumat Empat Ulama besar Aceh dan hadiah dua pesawat kepada negara yang baru lahir ini.

Fragmen di atas ini malah sangat bagus dimainkan oleh Zaini Abdullah. Perhatikan kutipannya berikut:
“Maka hari ini, dari halaman Hotel Atjeh, tempat bersejarah dimana Presiden RI Pertama, Ir Soekarno menerima sumbangan emas dari tangan rakyat Aceh, tempat dimana Tgk. Daud Beureueh mengumpulkan seluruh pengusaha Aceh hingga Republik Indonesia membeli pesawat kepresidenan pertama.”

Oleh karena itu, Zaini Abdullah, hemat saya, telah melakukan pekerjaan yang lebih besar, dari sekadar melakukan pernyataan maju sebagai Gubernur pada Pilkada 2017 nantinya. Apa yang dilakukannya, telah membawa kita berada pada titik anjak awal dari narasi yang sudah taken of granted antara hubungan Aceh dengan Indonesia.

Zaini Abdullah bahkan telah memberikan pesan yang mendalam, bahwa temali sejarah Aceh yang dipahami oleh hampir sebagian besar masyarakat adalah yang bertautan dengan sejarah nasional Indonesia. Sebab dari situ, narasi politik Aceh modern itu dimulai.

Zaini Abdullah kemudian, menggugah kesadaran sejarah itu, yang digambarkan olehnya melalui dua tokoh penting, Bung Karno dan Daud Beureueh yang pernah bertemu di Atjeh Hotel tersebut.

Menariknya kemudian, fragmen tersebut lalu ditariknya sebagai pengikat komitmen kesepakatan Helsinki. Zaini Abdullah, sebagai orang yang hadir pada acara penanda tanganan kesepakatan itu, malah tidak lagi bersandar kepada apa yang sering mereka sebut, di zaman perang dulu, sebagai dukungan internasional. Dia kemudian malah mencari sandaran lama, yang sudah menjadi monumen dalam alam kesadaran orang Aceh. Dan hal itu, ditemukannya di Atjeh Hotel.

Tulisan ini dikutip dari website pribadi Bung Alkaf ,yang berisi kumpulan tulisan Muhammad Alkaf

Komentar

Loading...