Unduh Aplikasi

Pertarungan Terakhir di Hutan Aceh

Pertarungan Terakhir di Hutan Aceh
ilustrasi

UPAYA Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh, Dinas Kehutanan Aceh, dan lembaga nirlaba dalam menyelamatkan harimau dari jerat pemburu di Samarkilang, Bener Meriah, adalah sebuah upaya penting dalam penyelamatan predator di puncak tertinggi rantai makanan hutan Sumatera. Sepanjang Oktober, tim ini merusak sembilan perangkap harimau.

Namun upaya ini tidak akan berdampak luas pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan. Hingga saat ini, masih ada pejabat dan tokoh masyarakat yang nyata-nyata menunjukkan hasrat mereka, menjadikan hewan penting dalam ekosistem hutan ini sekadar hiasan di ruang tamu.

Di masyarakat, mitos tentang khasiat dan kekuatan mistis yang dimiliki hewan-hewan ini cukup menjadi alasan perburuan liar ini terus marak. Mereka mengoleksi gading gajah, taring dan kulit harimau untuk hal-hal yang tak terbukti secara ilmiah. Mereka enggan disebut sebagai penjahat lingkungan tapi bertindak nyata merusaknya.

Inilah alasan mengapa pertarungan melawan perburuan liar sulit dimenangkan. Sistem hukum yang ada tak cukup untuk memutus mata rantai perburuan liar ini. Hewan-hewan ini cukup rentan keberadaannya karena upaya perlindungan terhadap keberadaan mereka setengah hati.

Kita tentu sepakat jika pengadilan menjatuhkan vonis berat bagi para pemburu hewan liar. Namun jangan lupakan para pemilik potongan tubuh gajah, harimau, atau hewan dilindungi lainnya. Para kolektor ini adalah alasan para pemburu satwa dilindungi ini tetap ada. Dengan memotong alur permintaan, otomatis tak akan ada perburuan.

Karenanya, media ini meminta agar Pemerintah Aceh, dengan memanfaatkan kekhususannya, membuat qanun yang benar-benar memberikan perlindungan terhadap upaya konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati di Aceh, terutama spesies yang dilindungi. 

Di Sumatera, praktis hanya hutan Aceh yang memiliki harapan lebih baik untuk bertahan dari gempuran kepunahan. Dengan keistimewaan Aceh dan kemauan bersama untuk menjaga hutan serta seluruh isinya, generasi masa depan Aceh akan berkesempatan bertemu langsung dengan hewan-hewan ini di alam liar. Bukan sekadar memandangi gambar usang dari sebuah foto tua.

Komentar

Loading...