Unduh Aplikasi

Peringatan Mahadahsyat dari Yang Mahakuasa

Peringatan Mahadahsyat dari Yang Mahakuasa
Ilustrasi. Foto: emaze

DUA BELAS tahun berlalu. Tapi luka itu tetap saja terasa. Membekaskan guratan duka yang dalam dan panjang di hati dan ingatan. Membangkitkan kenangan terhadap orang-orang yang kita kenal dan kita sayangi.

Waktu itu, kita hampir tak pernah mengenali apa itu tsunami. Kata-kata itu mungkin hanya mengingatkan kita pada Negeri Sakura, Jepang. Saat air datang dari laut dan tanah yang dipijak, sebagian kita hanya mampu berteriak, “air naik...air naik.”

Kini, setelah 12 tahun, pengetahuan tentang tsunami menjadi sebuah kearifan lokal di Aceh. Meski memang, tak mudah mengubah pola hidup setelah porak-poranda digulung gelombang yang datang dari lautan yang hitam.

Ada banyak hal yang harus selalu kita ingat dari kejadian mahadahsyat ini. Salah satu pesan itu adalah pesan damai. Segera setelah bencana itu, para pihak bertikai di Aceh berembuk di Helsinki untuk mencari jalan keluar membangun Aceh yang lebih baik. Membuang ego dan melihat dan merancang masa depan yang lebih baik bersama-sama.

Pelajaran ini hendaknya tidak mudah dilupakan. Kita harus terus belajar dan mencari hikmah di balik semua peristiwa ini. Tensi politik yang semakin meninggi menjelang Pemilihan Kepala Daerah 2017 ini hendaknya tidak terus digesek.

Bencana 12 tahun lalu haruslah dipandang sebagai peringatan. Diambil hikmah. Kejadian mahadahsyat ini adalah cara Yang Mahakuasa untuk “menyentil telinga” kita. Jangan jadikan kekuasaan sebagai “gelombang hitam” yang akan menggulung semua hal yang dilewatinya. Karena jika kelak gelombang itu datang, kita tak akan pernah dapat mengukur kesanggupan untuk menerimanya.

Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...