Unduh Aplikasi

Perang Covid-19, Belum Menang, Belum Selesai

Perang Covid-19, Belum Menang, Belum Selesai
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Kalaulah pandemi Covid19 dianggap sebuah perang besar, maka sampai hari ini, perang itu belum dimenangkan oleh manusia, walaupun berbagai keahlian, dana, dan sumber daya lainnya telah dicurahkan. Itu artinya tragedi kemanusiaan paling besar awal abad ke 21 masih menyisakan pertanyaan besar kapankah malapetaka itu dapat dihentikan?,  atau paling kurang, kapan dapat dikendalikan?
 
Statistik terakhir perkembangan pandemi global telah menyebabkan penularan terhadap sekitar 131 juta jiwa, kematian 2,85 juta jiwa, dan sembuh 74,4 juta jiwa. Di Indonesia jumlah orang yang tertular sekitar 1,53 juta jiwa, pulih 1,37 juta jiwa, dan korban meninggal 41.242  jiwa (Our World Data, 3 April 2021). Di Aceh korban Covid19 telah mencapai angka kematian 395 orang, tertular 9.118 orang, dan pulih sebanyak 8.079 orang dan dalam perawatan sebanyak 1.453 orang.
 
Tidak kurang 221 negara yang dan kawasan khusus tertentu telah diserang oleh pandemi ini yang tersebar di empat benua dan beberapa kawasan lautan besar atau kecil. Hanya sekitar 12 negara atau kawasan kecil.di samudera Pasifik, dan Atlantik yang terpencil yang melaporkan kasus penularan yang relatif kecil. Perang pandemi antara manusia dengan mahluk kecil kini telah semakin memberikan tanda-tanda awal bukan lagi sebagai sebuah arena petandingan lari cepat sprint, tetapi semakin memberikan kecendrungan sebagai sebuah lari  marathon panjang yang sangat melelahkan.
 
Saat ini tidak kurang dari 9 vaksin Covid-19 telah disuntikkan kepada manusia. Lebih dari 300 juta jiwa manusia telah menjalani vaksinasi, dengan jumlah terbanyak berada di negara-negara industri maju. Kelompok negara maju ini diperkirakan akan menyelesaikan vaksinasi Covid19 terhadap penduduknya pada tahun 2022.
 
Disebalik kemajuan itu, lebih dari 80 negara miskin baru memulai vaksinasi publik pada tahun 2021, bahkan ada  beberapa yang belum memulai. Dengan melihat kepada beberapa laporang perkembangan yang ada saat ini, diperkirakan kalau semuanya berjalan lancar, baru pada tahun 2023, proses vaksinasi di negara-negara miskin akan terjadi dan mungkin akan terselesaikan.
 
Sulit membayangkan publik global akan merasakan dengan cepat pemulihan di berbagai sektor kehidupan sehari-hari. Ini artinya, kehidupan normal, seperti halnya perjalanan internasional, dan berbagai kegiatan rantai pasok perdagangan global tidak akan pernah pulih, paling kurang sampai tahun 2024.  Perkecualian hanya akan mungkin, jika ada beberapa perkembangan baru ilmu pengetahuan yang akan memberi ruang improvisasi wilayah kesehatan publik.  
 
Dalam konteks vaksin yang digunakan, pada umumnya dari semua vaksin yang digunakan, semuanya telah memberikan indikasi aman dan efektif, dengan beberapa catatan khusus. Kemanjuran vaksin untuk kelompok usia muda, terutama anak-anak dan remaja masih terus menjadi tanda tanya merupakan salah satu soal yang masih belum terjawab dengan baik. Selanjutnya, berapa lama vaksin itu akan ampuh dan bertahan juga belum memberikan kepastian. Tidak hanya durasi  kekebalan akibat vaksinisasi yang masih menjadi tanda tanya, akan tetapi kekebalan alami yang didapatkan juga belum dapat dikonformisi keampuhan jangka waktunya.
 
Hal ini menjadi penting untuk dicatat, karena  dari beberapa laporan terakhir yang ada, dilaporkan telah terjadi proses mutasi virus Covid-19 yang sangat serius. Paling kurang generasi pelanjut virus Covid-19 seperti yang awalnya ditemukan di Wuhan, kini telah menunjukkan adanya turunan baru yang mempunyai sifat yang berbeda dari generasi yang menimbulkan infeksi pertama seperti yang terjadi di Wuhan.  
 
Jenis-jenis baru yang disebutkan misalnya B.1.17. yang ditemukan di Inggris, B 1.351 di Afrika Selatan, B1.1526 di New York, dan B 1.427 di New di California. Kedua jenis baru yang ditemui di New York dan California lebih cepat menginfeksi manusia dibandingkan dengan turunan lainnya. Disamping itu juga ditemukan kemampuan virus itu untuk bertahan terhadap vaksin yang disuntikkan ke tubuh manusia. Laporan awal misalnya menyebutkan, varian B. 1.351 yang ditemukan di Afrika Selatan, mempunyai resitensi yang tinggi terhadap berbagai jenis vaksin yang ada pada saat ini.
 
Ada pesan yang bercampur antara rasa optimis dan pesimis dari perkembangan terakhir kemajuan pengendalian pandemi setelah  vaksinasi dilakukan. Ditemukan kecendrungan umum penurunan kasus secara total, terutama  di negara-negara maju, seperti AS, Israel, dan sejumlah negara Eropah. Namun, pada saat yang sama juga dilaporkan kenaikan secara sporadis di tempat-tempat tertentu yang mengkhawatirkan,sehingga beberapa pengetatan pengendalian seperti lockdown yang telah ditiadakan, kini kembali dipergunakan.
 
Mengimpikan kehidupan normal dengan pengendalian pandemi Covid19 secara solid di berbagai belahan bumi, nampaknya tidak mungkin akan dicapai dalam waktu yang cepat. Apalagi dengan melihat keterbelahan masyarakat, terutama para pemimpin global yang saat ini mempunyai agenda yang berbeda.
 
Mereka tahu, dan tak jarang mereka ucapkan apa yang disebut oleh  mantan menteri kesehatan Ethiopia yang kini menjadi Direktur Jendral  WHO Tedros Adhanom. Ucapan itu adalah, keselamatan individu dari pandemi Covid-19 hanya dapat dicapai ketika keadaan terkendali, ketika semua manusia berpeluang untuk selamat. Dan itu hanya akan terjadi, ketika manusia, baik secara individu, maupun komunitas, dimanapun mereka berada, di negara maju atau miskin telah memperoleh vaksinasi  Covid-19 secara bersama-bersama. Tanpa tercapai vaksinasi pada level global secara penuh, sulit membayangkan kehidupan akan berjalan secara normal di segala sektor.
 
Dalam keadaan yang belum menentu, sikap publik dan pemerintah di Aceh dalam menghadapi ketidakpastian pandemi Covid19 sebaiknya tidak menurun. Kita tidak boleh menganggap enteng, yakni dengan rendahnya kasus yang dilaporkan, seolah-oleh perang terhadap pandemi ini telah reda. Harus diakui, saat ini praktis test tidak pernah lagi dalakukan secara teratur dan terencana, kecuali terhadap sejumlah kecil anggota masyarakat yang diwajibkan oleh peraturan, seperti perjalanan pesawat udara.
 
Satu hal yang menjadi catatan penting yang perlu digaris bawahi adalah perilaku protokol kesehatan, baik pada tngkatan individu, maupun pada komunitas kini semakin nampak telah ditinggalkan. Hanya sedikit sekali jumlah warga yang konsiten berperilaku mengikuti anjuran yang telah dianjurkan oleh pemerintah dan ilmu pengetahuan. Semakin banyak terlihat publik yang meninggalkan perilaku kesehatan yang memberi ruang kecil kepada pandemi, seperti yang pada awalnya telah pernah dilakukan.
 
Seharusnya benih kewaspadaan terhadap pandemi yang telah tumbuh pada masa awal berjangkitnya Covid-19 perlu dipertahankan, Pemerintah di berbagai tingkatan, perlu menjaga dan menjadikan protokol kesehatan yang telah dipraktekkan oleh publik pada tahun 2020 menjadi norma baru kehidupan keseharian publik. Kita tidak boleh lupa, salah satu investasi besar warga Taiwan dan Korea Selatan yang sangat kecil mengalami kasus Covid19 adalah karena mereka menjaga protokol kesehatan dari virus SARS-tahun 2009 dan MERS-tahun 2012.
 
Protokol kesehatan yang diterapkan untuk kedua virus itu, kemudian menjadi norma kehidupan keseharian warga kedua negara itu, yang kemudian menjadi senjata ampuh ketika mereka menghadapi Covid-19. Di negeri kita, terutama kita di Aceh akan sangat rugi, seandainya perilaku kesehatan yang telah diterapkan dengan investasi  materi yang besar dan korban manusia yang juga tidak kecil, kita biarkan hilang perlahan begitu saja.
 
Tampaknya kita belum  mampu menunjukkan perlaku kesehatan publik Covid19 dapat ditransformasikan menjadi nilai-nilai kehidupan keharian masyarakat. Perilaku itu tidak hanya penting untuk penyakit yang sejenis dengan Covid19, tetapi juga penting untuk menghadapi Covid19 yang masih terus menular dan membunuh manusia. Perang melawan Covid19 belum selesai. Kita belum menang.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Idul Fitri - Disdik
Idul Fitri - BPKA
Idul Fitri - ESDM Aceh
Idul Fitri - Disbudpar
Idul Fitri- Gubernur Aceh

Komentar

Loading...