Unduh Aplikasi

INTERMESO

Perang Berat Jenderal Tito

Perang Berat Jenderal Tito
Ilustrasi: mrsfc.com

KEINGINAN Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengubah kultur feodal dalam birokrasi di seluruh tingkatan pemerintahan adalah sebuah kerja yang berat. Karena sadar atau tak sadar, hampir setiap orang di negara ini menyimpan sikap feodal di dalam diri mereka.

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata ini: berhubungan dengan susunan masyarakat yang dikuasai oleh kaum bangsawan. Namun kita menyebutnya sebagai sikap orang-orang yang meminta dihormati, ingin dilayani dan disanjung-sanjung.

Di zaman ini, feodal dan feodalisme tidak hanya milik keturunan bangsawan atau hulubalang. Saat ini muncul kalangan berduit yang mencoba menyejajarkan posisinya dengan kalangan berduit lainnya.

Kebanyakan orang seperti ini adalah orang yang baru merasakan nikmatnya memiliki uang banyak. Di dalam masyarakat kita, pernah terucap istilah “orang kaya baru”.

Istilah ini merujuk pada orang-orang yang sebelumnya hidup miskin. Saat pendapatan mereka meningkat, mereka merasa perlu meningkatkan status sosial mereka. Mereka merasa, dengan penampilan yang serba wah, kendaraan mewah, dan mainan serba mahal, berhak atas pengakuan.

Keinginan untuk dihormati ini sering kali mengalahkan akal sehat dan kepedulian. Dengan kekayaan, dan daftar teman-teman dari kalangan berada, mereka merasa bisa mengintimidasi kelompok lain yang berpenghasilan lebih rendah. Atau mengernyitkan mata kepada orang-orang yang berpenampilan tidak sementereng dirinya.

Menjadi orang penting di negara ini memang menggiurkan. Mereka adalah standar yang ingin dicapai banyak orang. Rakyat kecil yang menggigil kehujanan di atas motor tentu memandang “iri” pejabat yang tak mau berhenti saat lampu merah menyala meski berada di dalam mobil yang nyaman dan berpendingin ruangan. Ini hanyalah secuil contoh. Rasanya, tak sulit mencari contoh lain.

Jadi, selama Tito mengampanyekah pemberangusan feodalisme, Tito tidak hanya berhadapan dengan bawahannya yang berstatus pejabat daerah dan pegawai negeri sipil. Tito akan berhadapan dengan budaya kental feodalisme. Bahkan di internal kepolisian, kejaksaan, tempat dbertugas dulu, atau di kalangan menteri di kabinet baru Presiden Joko Widodo.

Tito harus mempelajari betul-betul sejarah perkembangan zaman. Baik di Indonesia ataupun di luar negeri. Jika selama menjabat Tito bisa membabat semua akar feodalisme, entah itu produk undang-undang atau lewat strategi budaya, bukan tak mungkin Tito akan dianggap sebagai “Bapak Bangsa” yang baru. Bapak yang menjamin setiap anak-anaknya setara di mata negara. Tak peduli seberapa tebal kantongnya atau seberapa hebat orang tuanya. Ini bukan tak mungkin, tapi akan cukup sulit. 

Komentar

Loading...