Unduh Aplikasi

Peran BKSDA Aceh di Hulu PLTA

Peran BKSDA Aceh di Hulu PLTA
Hutan Samarkilang. Foto: WWF.

KEPALA Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Agus Arianto, tak cukup hanya memberikan pernyataan bahwa populasi badak Sumatera saat ini masih positif. Dia juga tak boleh sekadar memberikan peringatan dengan menyebut perlu aksi darurat dengan langkah-langkah untuk menyelamatkan populasi badak Sumatera dari ancaman kepunahan. 

Populasi Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di wilayah Kawasan Ekosistem Leuser bagian barat lebih dari 15 ekor saja. Sementara badak yang berada di kawasan Leuser wilayah timur di bawah dari 15 ekor. 

Salah satunya kawasan ekosistem penting yang menjadi habitat badak adalah hutan Samarkilang, di Bener Meriah. Dalam sejumlah survei satwa, termasuk juga pendapat para ahli, hutan ini masih memiliki badak meski jumlah belum dapat dipastikan. 

Di kawasan ini juga masih terdapat sejumlah hewan kunci hutan Aceh. Dalam survei yang dilakukan oleh World Wild Fund-Indonesia, pada 2015, melalui program konservasi badak bekerja sama dengan Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BP KEL), terdeteksi keberadaan badak Sumatera yang saat ini hanya tersisa di Aceh dan Lampung. 

Dari hasil survei di Bur Temun dan Lanie, tim menemukan pakan potensial dan beragam pakan yang digemari badak. Tim juga menemukan satu kubangan, plintiran tanaman, dan jalur aktif satwa yang merupakan lintasan badak.

Dalam survei itu juga ditemukan satu tapak badak yang berumur 3 bulan dan uning/snong atau mineral salt lick area. Di sini juga ditemukan jejak tiga spesies kunci hutan Aceh lain, yakni harimau, gajah dan orang utan. Kawasan Samarkilang juga masih menjadi rumah yang aman bagi berbagai jenis mamalia besar lain, seperti beruang, kijang dan kedih. 

Karena itu, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga air di kawasan itu harus benar-benar dilakukan dengan memperhatikan keselamatan hewan-hewan ini. Pembangunan PLTA itu hendaknya tidak mengorbankan keberadaan hewan-hewan yang menjaga hutan tropis di Aceh saat ini tetap ada. 

BKSDA Aceh, selaku pihak yang diberikan kewenangan untuk menjaga kelestarian sumber daya itu, harus memberikan masukan terhadap pembangunan PLTA itu. Memastikan bahwa pembangunan PLTA itu tidak merusak habitat satwa kunci hutan Aceh. 

Bahkan jika perlu, BKSDA menggandeng para ahli untuk mencari solusi agar pembangunan itu tetap bisa dilaksanakan dengan memberikan alteratif-alternatif yang dapat dibangun bersamaan dengan pembangunan PLTA. Seperti pembangunan terowongan perlintasan gajah di ruas tol Sibanceh. 

BKSDA bahkan harus bersikap pro aktif dalam menjaga kawasan dan hewan yang tersisa. Dengan demikian, pembangunan yang ada akan memberikan manfaat bagi manusia dan tidak mengorbankan satwa yang menjadi penyangga keberadaan hutan Aceh. 

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...