Unduh Aplikasi

Pengadaannya Mencapai Rp 18,7 Miliar, Alkes RSUDCND Meulaboh Belum Difungsikan

Pengadaannya Mencapai Rp 18,7 Miliar, Alkes RSUDCND Meulaboh Belum Difungsikan
Ilustrasi. Foto: Net

ACEH BARAT - Dua tahun sudah alat kesehatan modern milik Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien (RSUDCND) Meulaboh berupa alat bedah jantung dan ESWL didatangkan, namun belum juga dapat dioperasikan.

Padahal alat tersebut menelan anggaran miliaran rupiah, bersumber dari dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2018. Kehadiran dua alat tersebut harusnya tidak lagi perlu merujuk pasien jantung dan batu ginjal ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin Banda Aceh.

Diketahuinya alat tersebut masih belum juga beroperasi setelah Tim Panitia Khusus Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat tersebut berkunjung ke RSUDCND Meulaboh dan melihat beberapa alat-alat kesehatan modern yang ada di rumah sakit itu.

Baca: Baru Tiga Bulan Pakai, Alat X-Ray Bernilai Ratusan Juta di RSUDCND Rusak

Salah seorang anggota Pansus DPRK, Ahmad Yani, menjelaskan jika pengadaan alat berharga Rp 18,7 miliar tersebut mubazir jika tidak dapat difungsikan.

"Harusnya RSUDCND Meulaboh melihat dulu SDM (Sumber Daya Manusia) rumah sakit sebelum melakukan pengadaan alat-alat itu. Sehingga tidak mubazir," kata Ahmad Yani, kepada AJNN.

Yani mengatakan, seharusnya, kata dia, manajemen rumah sakit tersebut memiliki perencanaan yang matang dalam setiap merencanakan sebuah kegiatan sehingga setiap kegiatan yang dilakukan efektif serta tidak sia-sia.

Di katakannya, terkait pengoperasian alat bedah jantung dan ESWL pihak rumah sakit mengaku telah melakukan kontrak kerjasama dengan Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utar (USU).

Yani menilai pengakuan manajemen tersebut hanya sebagai alasan, karena tidak pernah bisa dibuktikan dan hingga saat ini alat canggih itu tidak berfungsi.

"Yang kita sayangkan saat ini untuk kebutuhan rumah sakit sehari-hari malah tidak mampu diatasi seperti alat pakai habis bagi pasien, terkadang keluarga pasien harus beli diluar lantaran tidak tersedia di rumah sakit. Meski sebenarnya uang yang digunakan itu dapat diklaim kembali oleh keluarga pasien tapi hal ini harusnya kan tidak terjadi," ucapnya.

Pengadaan alat canggih itu, dinilainya sangat royal sementara untuk Pendapatan rumah sakit saat ini tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah sakit.

Yani mengaku bingung dan bertanya-tanya atas tindaka rumah sakit itu yang tidak matang dalam perencanaan, bahkan pengadaan alat-alat rumah sakit dinilainya sarat politis.

Dikatakannya, alat-alat canggih tersebut harusnya dapat dioperasikan di rumah sakit tipe B, mengingat kebutuhan anggarannya yang cukup besar sehingga tidak mampu ditanggulangi oleh rumah sakit tipe C seperti RSUDCND Meulaboh.

"Kalau kita kan tipe C, jadi anggarannya jelas kecil beda dengan Tipe B jadi untuk operasikan alat itu kita sudah pasti tidak cukup anggarannya. Harusnya manajemen memperbaiki kualitas untuk menanikkan kelas rumah sakit dulu, bukan memaksakan diri membeli alat modern," sebutnya.

Dikatakan Yani, memang benar penadaan alat tersebut saat rumah sakit masih tipe B, tapi saat ini kelas rumah sakit itu telah turun ke tipe C sehingga tidak cukup anggaran mengoperasikan alat itu karena Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan tidak akan mau menanggung pembiayaan.

Yani lebih mendukung rumah sakit itu saat ini memperbaiki kualitas pelayanan sehingga tipe rumah sakit kembali naik kelas.

Yani mengendus saat ini pemangku jabatan di rumah sakit itu tidak lagi murni mereka yang benar-benar memiliki kemampuan dalam manajemen pengelolaan rumah sakit, akan tetapi saat ini kesannya ada unsur jabatan untuk kepentingan politis semata.

Komentar

Loading...