Unduh Aplikasi

Pemuda dalam Ruang Politik

Pemuda dalam Ruang Politik
Oleh: Putra Rizki Pratama*

Pemuda merupakan tonggak dalam setiap pembaharuan dan memiliki peran strategis dalam proses politik di negeri ini. Sejak dulu pemuda selalu mampu menghadirkan ide-ide cemerlang hingga memunculkan gerakan-gerakan alternatif. Mulai dari Pergerakan Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, gerakan memperjuangkan kemerdekaan hingga Proklamasi RI sampai gerakan Reformasi 98 merupakan bukti sejarah peran pemuda dalam memperbaiki nasib bangsa dan memaksa bangsa ini terus bergerak kearah lebih baik.

Sejatinya peran pemuda selalu dibutuhkan oleh bangsa ini untuk mengisi kebuntuan politik. Cita rasa idealisme yang dimiliki pemuda menjadi bumbu utama yang sangat diperlukan dalam menjaga dan menjadi alarm dalam mengawal praktik demokrasi yang baik di tengah masyarakat, seperti pemilihan kepala daerah.

Ironinya, pemuda hari ini masih terlalu elergi dengan dinamika politik lantas menarik diri dari segala perilaku politik yang ada. Hal ini disebabkan kebanyakan pemuda berada pada titik kejenuhan akan tontonan politik selama ini dengan warna yang terkesan membingungkan, kaku dan kotor.

Pola pikir yang menghinggapi pemuda sangat tidak bisa terlepas dari pengaruh peran media yang terus mempertontonkan praktik politik dalam negeri seperti tidak pernah baik, penuh tipu muslihat, saling menjatuhkan dan menjelekan antar pihak, penuh rekayasa hukum, praktik suap-menyuap, hingga praktik korupsi sistemis yang dilakukan oleh elit politik negeri ini.

Hal ini ditambah oleh mindset yang berkembang ditataran masyarakat seolah politik adalah opium yang harus dijauhi sehingga menjadikan politik sebagai ladang “haram” bagi pemuda untuk berkecimpung di dalamnya, ini merupakan buah dari trauma praktik politik masa lalu yang akhirnya mewariskan resistensi di tengah masyarakat.

Dalam kondisi tersebut, akhirnya pemuda memilih untuk tidak terlibat pada ranah partisipasi politik dalam bentuk apapun dan biasanya akan berujung menjadi generasi permisif hingga golongan pencaci-maki akan kondisi yang sedang dialami tanpa menghadirkan solusi apapun.

Padahal, partisipasi pemuda dalam ruang politik sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang dan pengawal agar proses demokrasi berada dalam bingkai yang jujur dan terbuka. Terlebih pemuda yang juga sebagai agen perubahan harusnya berani untuk tampil dan ambil bagian secara menyeluruh baik sebagai penyelenggara, pengawas bahkan sebagai peserta dalam alur demokrasi tersebut.

Keterlibatan pemuda secara aktif diharapkan akan mendorong praktik demokrasi yang baik yakni bebas dari perilaku politik kotor, saling menjatuhkan, kongkalikong antar peserta dengan penyelenggara politik, korup, intimidasi dan kekerasan politik atau sering disebut sebagai premanisme politik.

Maka seharusnya pemuda, sebagai generasi emas dan menjadi tulang punggung pembangunan dan pembaharuan, mengambil peran lebih besar dalam kancah politik. Cukup bagi pemuda menjadi penikmat suguhan bahkan hanya sekedar sebagai penghias di panggung politik.

Banyak hal yang dapat dilakukan pemuda dalam mengaktualisasikan diri di ruang demokrasi, misalnya mengadakan forum kajian/diskusi politik kritis berbasis masyarakat dan lintas sektoral. Di sini pemuda bersama masyarakat bisa mulai membangun pendidikan politik yang baik dan mencari definisi politik substantif yang keluar dari jebakan pragmatisme saat menyusun agenda politik sehingga akan berpihak pada masyarakat.

Melalui forum ini pula nantinya pemuda bersama masyarakat dapat melahirkan rekomendasi kebijakan yang dapat disampaikan langsung kepada para pemegang kekuasaan dan pengambil kebijakan setempat. Dan proses selanjutnya adalah mendesak legitimasi atas rekomendasi tersebut sehingga memiliki nilai komitmen antar pihak sehingga mudah dipantau.

Dengan meningkatnya kesadaran dan partisipasi politik di kalangan pemuda dan masyarakat maka akan melahirkan budaya koreksi ketika sebuah kebijakan lahir tanpa berpihak pada kepentingan rakyat.

Selain itu, pemuda sebagai bagian dari entitas masyarakat yang juga menjadi kelompok intelektual bisa melakukan kegiatan-kegiatan intelektual seperti menawarkan sebuah gagasan, tulisan analisis komprehensif terhadap persoalan di tengah masyarakat hingga menawarkan sebuah kontrak politik.

Tentunya kontrak politik yang dimaksud bukan bersifat transaksional melainkan lebih kepada budaya politik yang berintegritas dan terbuka, misalnya mewajibkan dibukanya ruang komunikasi-diskusi antarpemangku kebijakan dengan elemen pemuda, dan lain sebagainya. Dengan kontrak politik substantif dan terbuka ini akan menjadikan golongan pemuda dihargai dan akan mendapat posisi lebih ketimbang dengan kaum penganut tradisi.

Langkah selanjutnya dalam mengisi ruang politik, pemuda dapat dan harus memanfaatkan media massa/sosial media sebagai alat bantu untuk membentuk dan mendorong budaya politik yang sehat dan terbuka. Hal ini dapat dilakukan dengan menawarkan konsep-konsep kegiatan politik yang baik, sehat dan terbuka guna membentuk perilaku politik di tengah masyarakat sehingga masyarakat akan keluar dari kondisi gagap politik dan bahkan apatisme politik.

Di lain sisi, sosial media juga dapat digunakan sebagai alat pengawasan dan media koreksi serta mnjadi corong informasi terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat. Hal ini tentunya akan tercapai jika pemuda terus membekali diri dengan berbagai ilmu-ilmu agar setiap tindakan dan gagasan yang keluar benar-benar dirasa manfaat oleh masyarakat.

Maka setelah ini, mari kita para pemuda ucapkan selamat tinggal kepada apatisme dan gagap politik. Secara bersama-sama kita harus memotong ruang tumbuh bumbu apatisme dan pragatisme politik di masyarakat dan menggantinya dengan tradisi partisipasi aktif dan politik subtantif.

Kita lupakan pola-pola transaksional yang semakin menyuburkan sepak terjang politisi korup dan mandul gagasan. Kita buktikan bahwa pemuda merupakan aset berharga dalam kegiatan politik yang tak dapat dibeli oleh segenggam jabatan, sekarung uang, dan bahkan dengan sebaris ancaman.

*) Penulis adalah pegiat Lingkar Studi Kritis dan Ketua Umum PB-IPPEMAS

Komentar

Loading...