Unduh Aplikasi

Pemkab Aceh Barat Gelar Razia Penderita Gangguan Jiwa

Pemkab Aceh Barat Gelar Razia Penderita Gangguan Jiwa

ACEH BARAT - Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Barat menertibkan sejumlah penderita gangguan jiwa yang berkeliaran di pemukiman masyarakat. Penertiban para penderita gangguan jiwa itu dilakukan sejak Jumat (2/12) hingga Sabtu (3/12).

Kepala Seksi Kesehatan Khusus, Ayun Istiqomah mengatakan dari operasi penertiban bagi penderita gangguan jiwa tersebut, pihaknya berhasil menjaring sebanyak empat penderita, yakni dua terjaring di Kecamatan Johan Pahlawan, dan dua terjaring di Kecamatan Samatiga.

“Yang kami jaring dari kemarin ada empat, tiga tercatat sebagai warga Aceh Barat dan satu warga Nagan Raya. Usai kami jaring langsung dibawa ke Bangsal Zaitun Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien, tempat rawat inap para penderita gangguan jiwa,” kata Ayun, Sabtu (3/12).

Ayun menjelaskan para penderita gangguan jiwa yang terjaring tersebut telah diketahui oleh pihak keluarganya, bahkan ada yang terjaring saat mereka sedang berada di rumah keluarganya karena bersembunyi.

"Kami sedikit kewalahan menjaring penderita gangguan jiwa karena melakukan perlawanan, sehingga terpaksa kami diviksasi terlebih dahulu sebelum dibawa," ungkapnya.

Hingga Desember 2016, kata dia, jumlah penderita gangguan jiwa di Aceh Barat tercatat sebanyak 700 orang yang disebabkan oleh berbagai kasus seperti persoalan ekonomi, tsunami dan konflik Aceh masa lalu.

“Dari 700 penderita ini, ada tiga kategori, pertama disebut dengan gangguan jiwa mandiri mereka akan lebih mudah sembuh ketika mampu mengontrol halusinasinya, ada yang ketergantungan, itu mereka sangat membutuhkan orang lain dalam penyembuhannya. Dan satu lagi itu parsial, mereka dalam penyembuhannya masih membutuhkan orang lain,” kata dia.

Banyaknya penderita gangguan jiwa selama ini tidak tertangani dengan baik disebabkan oleh pihak keluarga yang kurang memperhatikan kondisi dan gejala yang dialami mereka, sehingga membutuhkan waktu lama untuk sembuh.

Faktor penyebab kurangnya peduli dari keluarga karena faktor kemiskinan, sehingga saat ada keluarga mereka yang memiliki gejala gangguan kejiwaan tidak segera dibawa kerumah sakit.

“Padahal saat ini di puskesmas juga sudah disediakan dokter yang mampu menangani penderita gangguan jiwa, karena para dokter tersebut meski dokter umum telah kami latih tentang penanganan penderita kejiwaan. Serta adanya perawat penderita gangguan jiwa masyarakat,” ungkapnya.

Dikatakannya, untuk penanganan penderita gangguan jiwa selama ini juga telah ditanggung oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, sehingga keluarga tidak membutuhkan biaya dalam mengobati para penderita gangguan jiwa tersebut.

"Bagi penderita gangguan jiwa yang terlantar dan tidak diketahui identitasnya, kami akan meminta surat rekomendasi dari Dinas Sosial sehingga untuk pengobatannya bisa ditangani oleh BPJS," jelasnya.

Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...