Unduh Aplikasi

Pemkab Aceh Barat Galakkan Tanam 23 Ribu Pohon

Pemkab Aceh Barat Galakkan Tanam 23 Ribu Pohon
Plt Bupati Aceh Barat ketika menanam pohon. Foto: Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kabupaten Aceh Barat pada tahun 2016 kembali melakukan pembagian bibit pohon berbagai jenis sebanyak 23.500 batang kepada masyarakat untuk dilakukan penanaman sebagai wujud mencegah terjadinya emisi karbon dan perubahan iklim yang semakin mengancam.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Barat Said Mahjali, mengatakan penanaman sebanyak 23.500 pohon yang dilakukan dalam kegiatan Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN).

“Pemkab sudah menyalurkan 23.500 bibit, dengan rincian bibit cemara 13.500 batang, jernang 8.500 batang dan bibit jambu 1.500 batang,” kata Said Mahjali kepada wartawan usai melakukan kegiatan seremoni penanaman pohon, yang dilakukan di Conservation Respun Unit (CRU) Gajah Desa Alue Kuyun, Kecamatan Woyla Timur, Selasa (20/12).

Selain melakukan pembagian bibit sebanyak 23.500 batang, Said mengaku mereka juga telah ikut memperluas dan memperkuat ruang terbuka hijau (RTH) dikawasan kota Meulaboh.

Adapun jenis pohon yang ditanam untuk memwujudkan RTH di kawasan Kota Meulaboh, kata dia, pihaknya telah menanam ribuan pohon jenis trembesi, mahoni maupun glondongan tiang disepanjang Jalan Terendam, Letnan Mubin serta di Lapangan Teuku Umar.

Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Aceh Barat, Rachmat Fitri HD, meminta kepada dinas setempat agar kegiatan ini tidak hanya kegiatan pembagian bibit dan seremonial belaka, namun juga mampu memastikan pohon yang ditanam tersebut benar- benar tumbuh.

“Dipastikan tidak setelah tanam lalu tidak tumbuh, namun benar- benar tumbuh. Jadi rawatlah pohon dengan cara menyiram setiap saat serta memupuknya,” kata Haji Nanda—sapaan akrab Rachmat Fitri HD.

Menurut Haji Nanda, menanam sebenarnya bukan sesuatu yang tabu di tengah masyarakat Kabupaten Aceh Barat, bahkan menanam pohon selama ini merupakan kearifan lokal masyarakat setempat.

Kearifan lokal itu, kata dia, selama ini mulai tergerus seiring berjalannya waktu, padahal dulu setiap pasangan yang hendak menikah diwajibkan menanam minimal dua pohon berbagai jenis, seperti pohon kelapa misalnya.

“Jadi jika nanti ada yang mati atau tidak tumbuh maka kita minta dinas segera ganti dengan bibit baru,” ungkapnya.

IKLAN HPI
Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...