Unduh Aplikasi

Pemilik Tolak Harga Pembebasan Lahan Pembangunan Jembatan Panteraja

Pemilik Tolak Harga Pembebasan Lahan Pembangunan Jembatan Panteraja
Spanduk penolakan pembebasan lahan pembangunan jembatan duplikat Panteraja.

PIDIE JAYA - Sebanyak 12 orang dari 18 pemilik lahan yang terdampak akibat pembangungan jembatan duplikat Panteraja, menolak harga pembebasan lahan yang ditetapkan oleh Kantor Jasa Penilaian Publik (KJPP).

Pemilik lahan yang masih menolak itu adalah, Umar Sabi, Nurhayati, Salbiah, Rukiyah, Muzakir, Abubakar, Yahya dan Habibah, masing-masing mereka memiliki satu persil. Kemudian, Hasbi dan Aminah masing-masing dua persil, Azhar tiga persil, dan Kurmi lima persil.

Mereka sepakat menolak harga yang telah ditetapkan KJPP karena mereka menilai harga ganti rugi pembebasan pahan mereka tidak sesuai dengan harga pasaran.

“Saya tetap menolak dengan harga yang ditentukan tersebut. Karena sangat merugikan kami. Belum lagi harga yang diberikan berbeda-beda di satu deretan. Tanah saya yang masih dalam satu deretan, harga berbeda-beda,” kata salah seorang pemilik lahan dan bangunan, Azhar kepada wartawan, Rabu (18/11).

Senada dengan Azhar, pemilik lainnya, Kurmi menuturkan, sangat tidak cocok dengan harga yang ditentukan, apalagi kata dia, bangunan miliknya memiliki usaha sarang burung walet.

“Milik saya hanya dinilai Rp 1.1 miliar, sangat tidak cocok dengan nilai yang ditentukan itu. Usaha sarang burung wallet saya tidak dihitung, saya tak dapat menerima dengan harga ini," cetus Kurmi yang memiliki lima persil lahan.

Dihimpun AJNN, harga pembebasan lahan yang ditentukan untuk pembangunan jembatan duplikat Panteraja dan jalan dari Rp 600 ribu hingga Rp 1.9 juta per meter. Harga tersebut belum termasuk bangunan.

“Saat rapat yang digelar di kantor bupati Senin pekan lalu, masalah harga juga tidak jelas, serta tidak ada musyawarah dengan pemilik lahan. Hanya menyampaikan jika pemilik yang tak setuju dengan harga yang telah ada, akan dititipkan di pengadilan,” pungkas Kurmi.

Komentar

Loading...