Unduh Aplikasi

Pemilik Tanah Mulai Protes Pembebasan Lahan Proyek Jembatan Panteraja

Pemilik Tanah Mulai Protes Pembebasan Lahan Proyek Jembatan Panteraja
Ilustrasi. Foto: Net

PIDIE JAYA - Pemilik lahan yang berimbas akibat pembangunan proyek jembatan duplikat di Kecamatan Panteraja, Pidie Jaya, mulai melakukan protes terhadap pembebasan lahan yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan pemerintah setempat.

Aksi protes tersebut terlihat pada spanduk yang dipasang pada pagar proyek tersebut oleh pemilik lahan “Kami tidak menjual tanah dan toko untuk pelebaran jembatan krueng Panteraja jika pembayaran tidak sesuai dengan janji” tulis pemilik lahan pada spanduk tersebut.

Salah seorang pemilik lahan, Azhari kepada AJNN, Rabu (23/9) menuturkan, hingga saat ini Pemerintah Pidie Jaya belum menentukan berapa harga lahan dan harga bangunan yang akan diganti rugi akibat pembangunan jembatan duplikat Panteraja tersebut.

Namun dari informasi yang diperoleh pemilik toko pancing itu, harga tanah dan bangunan yang akan dibayarkan oleh pemerintah jauh dari harga pasaran.

“Saya belum dipanggil, tapi ada pemilik lainnya yang sudah dipanggil harga tanah bangunan yang akan diganti untung, jauh dari harga pasaran,” kata Azhari sambil memperlihatkan dokumen yang akan dibayarkan pemerintah kepada pemilik lahan lainnya.

Dikatakan, harga bangunan milik Nurhayati Imbrahim dibayar total Rp 274 juta lebih, dengan rincian tanah 39 meter Rp 69.020.250, toko Rp 201.114.240, listrik Rp 3.171.700, canopy Rp 1.379.376. Menurutnya, harga tersebut sangat jauh dari harga pasaran, apalagi bangunan itu mempunyai dua lantai.

“Ini bukan ganti untung, kami sangat dirugikan jika harga seperti ini. Toko milik Nurhayati yang dua lantai itu dibayar Rp 274 juta lebih,” ujarnya

Baca: Proyek Jembatan Duplikat Panteraja Dimulai, Rekanan PT Takabeya Perkasa Group

“Nah toko saya yang dua muka dengan tiga lantai mau dibayar berapa, jangankan Rp 1 miliar, Rp 2 miliar saja dibayar saya masih rugi,” tanbahnya.

Bukan tanpa alasan Azhari memperkirankan harga tokonya sedemikian. Pasalnya sebut dia, untuk memajukan toko atau penjualan alat pemancingan diawal pembukaan toko bukan hal yang mudah, apalagi Azhari mempunyai sarang burung walet yang masih produktif di lantai tiga toko miliknya itu.

“Bukan hal mudah merintis usaha baru di tempat yang baru. Salah-salah mesti gulung tikar,” sebutnya.

Azhari dan beberapa pemilik lahan lainnya yang ditemui AJNN di toko pancing itu, tidak akan menjual lahan milik mereka jika harga ganti rugi tidak sesuai yang dijanjikan.

“Kami tidak akan menjual lahan kami jika harganya jauh dibawah harga pasar,” tegas Azhari yang diamini, Jumiati dan beberapa pemilik lahan lainnya.

Azhar menyebutkan, untuk harga pasar tanah disepanjang pertokoannya itu berkisar dari Rp 2 juta hingga Rp 3 juta per meter.

“Harga pasar tanah disini antara Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Tapi kalau milik saya yang dua muka tiga lantai ini, dibayar Rp 2 miliar masih rugi saya,” tutup Azhari yang merasa tertipu dengan janji manis pemerintah

Komentar

Loading...