Unduh Aplikasi

Pembinaan di Luar Penjara

Pembinaan di Luar Penjara
Ilustrasi: Shutterstock

KARENA mereka tidak berstatus bebas murni, narapidana yang dikeluarkan lebih cepat dari penjara, setelah mendapatkan asimilasi Covid-19, harus terus dipantau. Ini adalah tanggung jawab besar yang harus pula dilakukan pengelola penjara dari luar areal mereka. 

Kemarin, 42 warga binaan di Balai Kemasyarakatan Rutan Kajhu mendapatkan kesempatan untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat. Mereka menikmati program Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang memberikan asimilasi dan integrasi bagi narapidana di tengah pagebluk corona. 

Kondisi di dalam penjara memang menjadi salah satu pertimbangan untuk melaksanakan program ini. Banyak penjara mengalami kelebihan kapasitas. Untuk meminimalisir penyebaran virus corona di lembaga pemasyarakatan dan lembaga pembinaan khusus anak, memang diperlukan langkah ini..

Pemerintah membatasi penerima asimilasi ini. Dalam aturan terbaru, para terpidana kasus narkotika, prekursor narkotika, dan psikotropika, terorisme, korupsi, kejahatan atas keamanan negara, kejahatan hak asasi manusia yang berat, dan kejahatan transnasional terorganisasi lainnya, tidak masuk dalam kategori penerima asimilasi.

Asimilasi juga tidak diberikan kepada narapidana dan anak yang terjerat pasal pembunuhan, pencurian dengan kekerasan, kesusilaan Pasal 285 sampai dengan Pasal 290 KUHP, serta kesusilaan terhadap anak. Kriteria-kriteria ini harus pula dipahami masyarakat agar mereka tidak salah paham dan menganggap asimilasi ini diberikan hanya untuk mengurangi beban penjara. 

Karena itu, penting bagi para petugas untuk memantau para narapidana ini secara berkala. Sehingga mereka benar-benar siap kembali ke lingkungan saat mendapatkan kebebasan murni. Hal ini juga perlu dilakukan untuk memberikan rasa aman dalam masyarakat. 

Ini sebenarnya menjadi kesempatan yang baik bagi mereka yang benar-benar ingin memulai hidup baru. Masa hukuman yang telah dijalani seharusnya cukup dijadikan pelajaran agar tidak lagi berbuat kejahatan yang bisa mengembalikan mereka ke penjara. 

Restorative justice ini memang masih membutuhkan waktu untuk menguji efektivitasnya. Namun dengan keseriusan kementerian terkait, serta dukungan dari masyarakat dan keluarga tempat si narapidana menetap setelah keluar dari penjara, konsep ini akan membuahkan hasil yang lebih baik ketimbang menumpuk narapidana dalam penjara. 

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...