Unduh Aplikasi

Pembangunan Setengah Hati

Pembangunan Setengah Hati
Saifuddin mahasiswa malikusaleh
Dunia politik dan hukum di Indonesia layaknya sebuah pisau yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Banyak orang mengatakan dua hal tersebut di Indonesia tidak pernah memandang bulu, tetapi untuk saat ini kita dapat melihat apa yang telah terjadi, si kaya semakin kaya dan si miskin semakin tidak ada yang peduli di atas Negeri ini.

Seharusnya anak jalanan dipelihara oleh negara namun buktinya, saat ini mereka tidur di kolong jembatan dan makan dari sisa makanan orang yang terlanjur kaya, dengan mudahnya mereka membuang makanan dan membeli yang lain sesuai dengan selera masing-masing.

Penulis menilai politik bagaikan permainan catur yang saling adu pemikiran demi mendapatkan kemenangan dan rela mengkorbankan yang kecil demi menghalangi atau mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Begitulah sistem politik kita di Indonesia.

Mengapa Indonesia menganut sistem demokrasi kalau suara masyarakatnya tidak pernah didengarkan. Apakah sistem demokrasi seperti saat ini yang ideal bagi kita? Atau justru ini hanyalah demokrasi semu yang kita anut berdasarkan paham picik sesuai dengan keinginan para penguasa.

Sekarang kita dapat melihat mereka yang tinggal di perbatasan sana antara Indonesia dengan Malaysia seperti di Kalimantan mengapa mereka lebih tertarik menggunakan bahasa Malaysia ketika berkomunikasi dan mengapa mereka menggunakan mata uang ringgit sebagai proses transaksi, apakah hal tersebut salah mereka? Jelas jawaban nya tidak.

Semua itu terjadi disebabkan minimnya kepedulian pemerintah terhadap masyarakatnya sendiri, mereka yang disana belajar dengan tempat yang tidak layak digunakan bahkan untuk hari upacara bendera merah putih pun mereka tak menghiraukannya lagi. Hal ini dapat kita lihat dari salah satu cuplikan film “Tanah Surga Katanya”.

Skenario yang ditulis dalam film tersebut sangat jelas menggambarkan bagaimana perbedaan negara kita dengan negara tetangga baik dari segi pembangunan seperti perbaikan infrastruktur jalan maupun dari segi perekonomian. Dua hal tersebut sudah sangat jelas jauh berbeda.

Jika kita analisis secara mendalam, sebenarnya wilayah yang disorot tersebut merupakan teritorial perbatasan yang sama-sama sangat jauh baik bagi Malaysia maupun dengan Indonesia. Tetapi mengapa pembangunan jalan di negeri jiran tersebut lebih baik dan indah dibandingkan dengan jalan yang di gunakan oleh penduduk Indonesia pada hal daerah tersebut sama-sama merupakan wilayah pedalaman.

Konteks Lokal
Begitulah pemerintahan sekarang yang hanya mementingkan kota-kota besar untuk membangun gedung-gedung mewah dan jalanan yang terletak di daerah pusat kota semata. Jika kita melihat dalam konteks lokal di Aceh, kita dapat mengambil contoh pembangunan  kota Lhokseumawe.

Terdapat bangunan yang tidak begitu memberikan dampak luas bagi masyarakat, alih-alih ingin membangun zona rekreasi dan mengurangi kemacetan kota namun pembangunannya terkesan tidak memberikan andil sama sekali.

Cobalah kita keluar di malam hari sekitar pukul 00.00 wib dengan mata sayu kita dapat melihat mereka yang tidur di pinggir jalan depan Islamic Centre, Terminal Baru. Penulis pernah melihat seorang ibu berjalan menggunak becak dayung yang sedang dikayuh, terlihat dengan jelas di dalam becak tersebut ada seorang anak perempuan yang tertidur didalamnya bak seperti pemulung-pemulung lain di ibu kota negara ini.

Dimana janji pemerintah yang dulunya selalu berkata akan menjamin kemakmuran masyarakat? Apa mungkin rakyat sudah harus dilupakan oleh elit negeri ini sebab kuasa telah didapat, proyek demi proyek, bangunan demi bangunan kita sudah tinggi menjulang sehingga masyarakat kini terbangkalai.

Mungkin saat ini kita sedang merasakan nikmatnya tidur malam meresepi rintik hujan yang sedang membasahi luar jendela kamar namun apakah kita pernah berpikir bagaimana nasip mereka yang tidak ada rumah, tidur di pinggir jalan dimanakah mereka akan berteduh? Harus tidur di kaki lima dan diusir oleh sang empunya toko dan tidur di tempat lain yang sudah duluan ada orang lain yang tidur di tempat terserbut.

Rakyat belum dapat melihat apa kegiatan-kegiatan para elit negeri Gedung mewah disana, tapi kami sekarang hanya dapat meresakan efek dari kelakuan anda semuanya. Terus lah menjadi seorang aktor yang bersembunyi di balik jubah dan terus lah menjadi seorang atlit di dalam sebuah permainan dan kami pun siap menunggu kapan permainan tersebut segara berakhir.

Terlihat dengan jelas bagaimana hukum-hukum di Indonesia yang dapat dibeli oleh mereka yang mempunyai berbagai jabatan penting di pemerintahan. Awalnya kasus korupsi seorang anggota terungkit ke publik, namun dalam perjalanannya semua itu hilang seketika bagaikan debu yang di tiup angin.

Dimana suara burung garuda? Ataukah sekarang ia sudah membisu? Atau memang sayapnya sudah patah sehingga tidak mampu lagi terbang untuk berteriak “Kerakyatan yang di pimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Seakan lambang negara tersebut hanya menjadi cendra mata di dalam Gedung-gedung yang diduduki oleh para pemimpin negeri ini. Jelas sekarang semua partai-partai politik yang ada di Indonesia tidak pernah berbalas jasa di mana yang dulunya satu suara sangat berguna bagi mereka untuk menjadi seorang pemimpin di dalam suatu wilayah dan mereka dipilih sesuai dengan segala janji yang sekarang tidak pernah di tepati.

Terjalin sebuah politik hanya untuk perut dan menghidupkan anak istrinya sedang kan masyarakat sekarang layaknya tikus yang hidup di kolong jembatan dan memakan dari hasil santapan mereka.  Aristoteles, seorang ahli dalam dunia politik yang hidup di jaman yunani kuno mengatakan politik itu sebagai “Usaha yang di tempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama”. Kalau kita memahaminya dengan seksama, sudah sangat jelas pendapatnya akan bertentangan dengan kenyataannya saat ini.

Masyarakat sangat berharap penuh kepada pemerintahan atas semua yang mereka lakukan, kesejahteraan rakyat bukanlah atas nama kesempurnaan dan kekayaan demi perut mereka masing-masing akan tetapi demi kemakmuran kita bersama, kalau seandainya pemimpin negeri ini dapat melihat jerit dan getirnya hidup mereka yang tinggal di pinggiran jalan, dapat dipastikan tidak akan ada hal yang seperti sekarang ini.


Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Malikusaleh, saat ini aktif di UKM KSM Creative Minority. (Saifuddin)

Komentar

Loading...