Unduh Aplikasi

Pelaku Penganiayaan Anak di Gampong Pie Diduga Stres Usai Melahirkan

Pelaku Penganiayaan Anak di Gampong Pie Diduga Stres Usai Melahirkan
Ilustrasi. Foto: Net

BANDA ACEH - Komisi Pengawas dan Perlindungan Anak Aceh (KPPAA) menduga bahwa kasus seorang ibu di Gampong Pie, Ule Lheu, Banda Aceh, yang menganiaya anaknya sendiri itu diduga sedang dalam keadaan mengalami stres usai melahirkan.

Komisioner KPPAA, Firdaus Nyak Idin mengatakan, setiap ibu yang baru melahirkan itu pasti mengalami kondisi yang disebut dengan stres usai melahirkan. Apalagi jika tidak ada orang lain seperti keluarga yang mendampingi atau membantunya mengurusi pekerjaan rumah.

"Dia ada kondisi yang disebut dengan stres usai melahirkan, disitu ibu harus didampingi betul oleh anggota keluarga, termasuk suami. Jadi urusan rumah tangga itu harus dibantu," kata Firdaus kepada AJNN, Senin (2/12).

Firdaus menyampaikan, stres usai melahirkan yang dialami seorang ibu itu bisa dalam jangka waktu yang lama sampai dua bahkan tiga tahun setelah melahirkan anaknya.

Apalagi, kata Firdaus, ibu yang bersangkutan itu memang baru hamil lagi dan melahirkan anak keduanya. Karena itu, tekanan psikologis terhadap akan berbeda.

"Dalam satu sisi tidak bisa juga disalahkan ibu, harus ada upaya pemerintah, keluarga dan masyarakat memberikan bantuan fisik maupun psikologis pada si Ibu," ujarnya.

Seharusnya, menurut Firdaus, ketika anak pertamanya itu mengambil makanan tetangga, masyarakat setempat jangan mengadunya, sehingga bisa membuat si ibu terbawa tekanan stresnya, dan menghukum anaknya. Tetapi, disayangi saja dengan tidak melaporkan kepada ibunya.

"Itu salah satu misalnya gitukan. Karena itu harus betul-betul ada dukungan psikologis dan fisik dari masyarakat," ucapnya.

Baca: Viral Ibu di Gampong Pie Aniaya Anak

Terkait kasus ini, Firdaus menuturkan bahwa pihaknya sedang mempelajari kasus itu. Namun, secara garis besar terlihat adanya kondisi stres usai melahirkan. Apalagi tidak adanya bantuan bagi si ibu seperti membantu mengurusi rumah tangga atau anak oleh keluarga.

"Kami belum bertemu langsung dan masih mempelajari. Tapi secara umum yang kami temukan selama ini, kasus itu sama dia. Sementara ini dugaan stres pascamelahirkan," sebutnya.

Firdaus menuturkan, sementara ini pihaknya belum bisa bertemu langsung dengan ibu atau anaknya, karena memang sedang ditangani para pihak. Disisi lain juga, tambah Firdaus, pertemuan itu memang harus hindari dulu untuk menjaga agar tekanan psikologis bersangkutan tetap stabil.

"Seorang ibu menghukum anaknya dengan kondisi seperti itu dia dalam keadaan tidak sadar itu, stres berat, dan kalau kita datangi dia semakin stres," pungkas Firdaus.

Sebelumnya, video yang menampilkan seorang ibu warga Gampong Pie, Ule Lheu, Banda Aceh melakukan penganiayaan terhadap anaknya sendiri, kejadian itu terjadi Jumat (29/11).

Dalam video tersebut terlibat sang ibu menyeret anaknya dengan posisi kaki di atas, bahkan si ibu juga mengancam anaknya akan di masukkan ke dalam sumur.

Kapolsek Ule Lheu, AKP Ismail saat di konfirmasi membenarkan ada kekerasan terhadap anak dibawah umur yang lakukan ibunya berinisial NM (30). Saat ini NM tengah menjalani pemeriksaan di Mapolres setempat.

"Kejadiannya Jumat sore, saat ini NM sedang kita periksa di Polsek," kata AKP Ismail, Minggu (1/12).

Ia menyebutkan kejadian itu berawal saat anaknya yang masih berusia sekitar tiga tahun itu mengambil tanaman tetangga, melihat perbuatan itu, sang ibu marah dan menyeret si anak.

Komentar

Loading...