Unduh Aplikasi

Pelajar SMU Unggul Meulaboh Dianiaya Senior

Pelajar SMU Unggul Meulaboh Dianiaya Senior
Korban kekerasa
ACEH BARAT - Kasus kekerasan senior terhadap junior terjadi di Aceh Barat, tepatnya di Sekolah Menengah Umum (SMU) Wira Bangsa. Dugaan penganiayaan terhadap siswa bernama Ridha Firnanda (17) yang masih duduk dikelas XI dilakukan  kakak kelasnya.

Dijumpai sejumlah wartawan, Senin (26/10) di kediamannya, Ridha menceritakan awal terjadinya kekerasan terhadap dirinya. Saat itu, Minggu (25/10) sekitar pukul 01.00 wib dini hari, ia dijemput oleh kakak kelasnya di asrama.

Menurut Ridha, sebelum dianiaya, ia dan rekannya sempat mendapat teguran dan arahan dari seniornya terkait dengan tidak mampu memimpin dan memberi arahan kepada siswa perempuan, sehingga para siswa perempuan tidak lagi berkelakuan sebagaimana yang diharapkan para senior yaitu memberi senyum saat jumpa seniornya.

"Saya di jemput ke kamar asrama oleh senior yang berinisial EJ, YF dan AM. Kemudian saya dibawa ke kamar Syauki yang juga siswa kelas XI. Disana saya dan beberapa teman lainnya diminta tutup mata, lalu dipukul di bagian leher," kata Ridha sambil menahan sakitnya.

Akibat dari pukulan tersebut, Ridha menjelaskan, lehernya merasa sakit bahkan tidak bisa menoleh ke kiri maupun ke kanan serta sekali-kali kepalanya terasa sakit.

Ridha mengaku, peristiwa penganiayaan terhadapnya merupakan kejadian yang kedua, karena sebelumnya juga sempat terjadi saat dirinya baru tiga hari masuk sekolah.

"Kalau yang pertama itu saya dipukul di perut berkali-kali serta ditendang dari belakang," ungkapnya.

Atas peristiwa tersebut, Ridha berharap para pelaku penganiayaan dapat diungkap dan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku.

Sementara itu, ayah korban, Chaidir Cut (45) menyesalkan  peristiwa penganiayaan terhadap anaknya.

"Saya menyekolahkan anak saya di sekolah itu, karena menurut saya SMU Unggul merupakan kebanggaan masyarakat Aceh Barat dan Nagan Raya. Tapi apa yang saya harapnya tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Ini kedua kali terjadi pada anak saya, kalau yang pertama dulu sudah diselesaikan dengan cara damai dan pihak sekolah berjanji peristiwa tersebut tidak terjadi lagi, tapi malah kembali terulang," ungkapnya.

Atas peristiwa tersebut, Chaidir langsung melaporkan peristiwa itu kepada pihak kepolisian. Tapi pihak kepolisian menyarankan untuk melaporkan terlebih dahulu ke pihak sekolah.

"Saya lapor k esekolah, tidak merespon apapun dan saya seperti dipermainkan. Atas dasar itu, maka saya kembali ke Polres dan langsung melakukan visum serta BAP (Berita Acara Pemeriksaan) tadi malam," jelas Chaidir.

Chaidir menambahkan, dirinya sudah tidak percaya lagi dengan sistem layanan di sekolah tersebut dan berencana mengeluarkan anaknya dari sekolah. Ia juga berharap Dinas Pendidikan Aceh Barat  mencopot kepala sekolah.

"Dinas Pendidikan setempat perlu melakukan perombakan struktur seperti mecopot kepala sekolah, guru maupun kepala asrama serta mengganti nama sekolah. Sehingga sistemnya menjadi benar-benar lebih baik," harapnya.

|DARMANSYAH MUDA

Komentar

Loading...