Unduh Aplikasi

Peduli dengan Aceh, Pilih Kembali Abu Doto Zaini

Peduli dengan Aceh, Pilih Kembali Abu Doto Zaini
Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Zaini Abdullah-Nasaruddin

Oleh: Ambo A. Ajis

Ingat!, hanya tinggal menghitung hari, masa depan Aceh ditentukan dari telunjuk pemilih tetap di Pilgub Aceh Tahun 2017.”

Kutipan di atas, sekadar mengingatkan kita bahwa masa depan Aceh, sesungguhnya ada di ujung telunjuk yang bertinta demokrasi. Hanya, sebuah jari telunjuk yang menusuk kertas suara, dan, byar!! lahirlah pemimpin yang bernama Gubernur Aceh Periode 2017-2022.

Sungguh sederhana, dan tidak terlalu sulit untuk dipahami, bahwa perangkat demokrasi melalui pemilihan umum atau pencoblosan di bilik suara oleh pemilik suara (konstituen) tidaklah rumit, atau tidaklah sulit dan tiada berbeda dengan rutinitas kita sehari-hari. Misalnya, bangun subuh, salat subuh, lalu minum kopi, kemudian keluar rumah, lalu menyempatkan diri ke bilik suara dan mencoblos kertas suara, dan ‘trap! … dan, tidak lama kemudian, pekerja quick qount merilis calon pemenang, dan, seseorang di luar sana sudah diperkirakan menjadi Gubernur Aceh periode 2017-2022. Sederhana bukan…Tetapi benarkah sesederhana itu?

Secara alamiah, bisa jadi sangat sederhana, karena rutinitas pencoblosan bukanlah perkara istimewa. Sebagai bangsa Indonesia, kita telah berulangkali melakukan rutinitas pemilu, baik itu untuk memilih presiden, gubernur, bupati atau wali kota. Lain lagi, pemilu legislative (wakil rakyat), pemilihan geuchik, juga kepala lorong, pemilihan tuha peut, dan sebagainya. Artinya, soal pencobolasan baik di musim pemilihan, nyatanya bukan hal yang istimewa.

Tetapi, cobalah melihat pemilihan kali ini (pemilu gubernur Aceh) dalam kacamata masa depan. Bahwa, akan sungguh celaka jika, Gubernur Aceh yang terpilih, nyatanya tidak memiliki kemampuan menjadi seorang gubernur yang bekerja untuk rakyatnya. Mengapa celaka, karena kita harus menunggu lima tahun lagi untuk mengubah situasi yang sudah terlanjur membuat derita tersebut. Barangkali, di titik inilah, perlunya keseriusan dari seluruh pemilik suara di Aceh untuk memahami benar, seperti apa kemampuan calon-calon gubernur Aceh tahun 2017-2022.

Memilih Abu Doto Zaini Abdullah sebagai gubernur adalah pilihan yang tepat. Sebagai seorang berlatar belakang dokter yang memahami anotomi dan pikiran manusia, beliau teruji dengan baik. Sebagai seorang pejuang yang memperjuangkan harkat kemanusiaan bangsa Aceh, sudah terbukti dari rekam jejak dan pengalaman beliau. Sebagai seorang politikus Gerakan Aceh Merdeka yang dipercaya Yang Mulia Wali Nanggroe Muhammad Hasan di Tiro yang tumbuh dan memaksimalkan dirinya sebagai pelobi tingkat tinggi GAM, telah terbukti sebagaimana sejarah mencatat kemampuan beliau. Sebagai seorang mentero GAM yang sangat piawai berkomunikasi nasional dan internasional, tak terbantahkan.

Dan, apabila ada orang yang yang hendak menghitung kontribusi Abu Doto “AZAN” dalam mendamaikan Aceh-Indonesia, sungguh, saya kira tak akan bisa menjangkau angka-angka kontribusinya walau dihitung alat modern setingkat kalkulator atau computer sekalipun.

Ketahuilah, kemampaun Abu Doto “AZAN” sesungguhnya tidak lepas dari bimbingan dan kepercayaan besar dari Yang Mulia Wali Nanggroe Muhammad Hasan di Tiro. Dan meskipun posisi beliau istimewa dalam diri Yang Mulia Wali Nanggroe Muhammad Hasan di Tiro, tidaklah mengurangi rasa hormat dan sikap bersahajanya dalam menerjemahkan perintah-perintah Yang Mulia Wali Nanggroe Muhammad Hasan di Tiro di lapangan politik dan lapangan social budaya.

Bagi seorang Abu Doto, loyalitas kepada Wali Nanggroe Muhammad Hasan di Tiro bersifat mutlak dan tidak bisa terbayarkan. Ini adalah sikap tulus seorang pejuang kepada guru sekaligus pembimbing ideologis. Dan, barangkali tidaklah berlebihan jika kita menyebut Abu Doto sebagai salah satu anak ideologis dari Wali Nanggroe Muhammad Hasan di Tiro.

Kepemimpinan Abu Doto Zaini Abdullah selama menjadi Gubernur Aceh tahun 2012-2017, berhasil membuka mata rakyat Aceh, dimana anak ideologis Hasan di Tiro ini mampu membangun bangsanya. Kecintaannya kepada Aceh di wujudkan melalui program-program kemasyarakata dan pembangunn yang mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh semakin hari semakin baik. Trend positif Aceh hari ini, menunjukan semakin banyak warga Aceh yang mampu memperkuat ekonomi keluarganya, semakin ada peluang menikmati dunia pendidikan, semakin baiknya infrastuktur jalan, jembatan, irigasi dan sektor-sektor ekonomi lainnya. Demikian juga keberpihakan Abu Doto terhadap nasib buruh, masyarakat pesisir (nelayan, petambak garam dan sebagainya) juga kepada tenaga honorer yang diperjuangkan menjadi PNS adalah bukti nyata Abu Doto bekerja untuk rakyat Aceh.

Sungguh, akan sangat disesalkan, jika rakyat Aceh, selaku pemilik suara, ternyata meninggalkan Abu Doto dalam pemilihan Gubernur Aceh tahun 2017 nanti. Yang saya yakini menjadi sebuah penyesalan yang akan menyakiti sejarah ingatan kita. Mengapa, karena Abu Doto yang mampu telah dan membuktikan diri mampu bekerja keras berpuluh tahun untuk mengembalikan hak-hak orang Aceh, baik itu dari kalangan GAM, kalangan sipil maupun kalangan lain yang terkena imbas konflik, ternyata tega meninggalkan Abu Doto “ternyata “dikhianati” oleh mereka yang sudah diperjuangkannya.

Tetapi, agak melegakan bahwa ada antusiasme masyarakat Aceh hari ini di Lhokseumawe, Bireun, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Besar, Banda Aceh, Sabang, Aceh Jaya, Aceh Barat, Abdya, Nagan Raya, Aceh Selatan, Subulussalan, Aceh Singkil, Simeulue, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa dan Aceh Tamiang, kepada Abu Doto. Sebuah antusiasme yang kita harapkan adalah kejujuran, kemauan, keinginan untuk menjadi basis suara pasti Abu Doto yang mendukungnya melanjutkan pembangunan Aceh 2017-2022.

Insyaallah, jika Abu Doto Zaini Abdullah dan Wakilnya Nasruddin terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh tahun 2017-2022 kelak akan terus menjawab kebutuhan rakyat Aceh sekaligus memastikan Aceh mendapatkan kejayaannaya melalui program-programnya yang pro rakyat Aceh. Wallahu A’lam bishawab.

Penulis adalah pemerhati sosial politik di Aceh

Komentar

Loading...