Unduh Aplikasi

Pasrah Menghalau Wabah

Pasrah Menghalau Wabah
Ilustrasi: toward data science

TAK ada yang memungkiri bahwa Aceh tak benar-benar bebas dari penyebaran virus corona. Meski saat ini jumlah kasus nihil, tetap saja ini bukan pembenaran yang menegaskan bahwa Aceh benar-benar bebas corona, untuk saat ini.

Terbukti saat tiga mahasiswa asal Malaysia terbukti mengidap corona sekembalinya dari Aceh. Mereka dinyatakan positif terpapar virus corona oleh otoritas kesehatan Malaysia. Ketiganya diperiksa di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) pada 16 April 2020. Kini, mereka harus menjalani karantina.

Pernyataan ini keluar belum sepekan. Artinya, besar kemungkinan di Aceh, terdapat orang-orang yang terpapar namun mereka tidak terdeteksi dan masih dalam masa inkubasi. Umumnya, masa inkubasi ini berlangsung sekitar 1 hingga 14 hari. Dan masa inkubasi virus corona, paling umum, sekitar 5 hari.

Namun tak terlihat upaya serius. Bahkan pertanyaan mendasarnya, apakah otoritas kesehatan di Aceh mengetahui kabar dari negeri jiran itu? Karena di sini, hampir tak terlihat reaksi yang wajar setelah sebuah kasus corona terungkap.

Pemerintah Aceh dan otoritas kesehatan harusnya segera membuat peta sebaran setelah menetapkan kawasan Darussalam, tempat tinggal mahasiswa asal Malaysia itu, sebagai kluster penyebaran covid-19.

Hal yang sama juga tak terjadi saat terungkap dua kasus positif corona di Pidie dan Gayo Lues. Keduanya memiliki riwayat perjalanan dari Sumatera Utara yang merupakan zona merah penyebaran corona.

Pemerintah Aceh dan otoritas kesehatan bertindak berdasarkan perasaan dan asumsi di saat mereka seharusnya bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan. Bahkan dapat dipastikan pemerintah tidak memiliki peta sebaran dan zonasi setelah kasus tiga mahasiswa asal Malaysia itu terungkap.

Dengan seluruh perangkat dan dana yang dimiliki, harusnya Pemerintah Aceh membuat sebuah protokol yang berlaku di mana saja di seluruh Aceh. Terutama untuk menghambat dan menghentikan meluasnya penyebaran virus ini.

Pemerintah Aceh harusnya bergerak aktif. Bukan seperti selama ini, hanya menunggu mereka yang sakit dan mendaftarkan mereka sebagai orang dalam pengawasan. Gugus Tugas Covid-19 di Aceh tak lebih dari sekadar pemadam kebakaran: bekerja saat ada api.

Pernyataan pemerintah Malaysia ini seharusnya menyadarkan kita betapa berbahayanya menjadi warga Aceh hari ini. Hal ini juga menjadi kritik untuk memperbaiki cara pemerintah mengelola data dan menjadikannya sebagai dasar mengambil kebijakan. Dengan cara yang dilakukan selama ini, Pemerintah Aceh tak bisa berharap covid-19 mereda, abrakadabra.

Komentar

Loading...