Unduh Aplikasi

Pasien Leukimia Asal Aceh Besar Terkatung-katung di Medan

Pasien Leukimia Asal Aceh Besar Terkatung-katung di Medan
ilustrasi
BANDA ACEH – Imam Riadi Pratama bocah berumur 6 tahun yang berasal dari Gampong Lambada Lhok, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, tak bisa kembali ke Aceh. Usai menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Imam dan Rahayuni (32), ibunya, terkatung-katung di Medan. Mereka tak punya uang kembali ke Aceh.

Sebelumnya, Imam dirawat di Rumah Sakit Zainoel Abidin. Karena tidak maksimal, dokter menyarankan merujuk Imam ke RS Elizabet. Saat itu, Rahayu terpaksa membawa anaknya menggunakan bis antarkota antarprovinsi karena tak punya uang.

“Ambulan harganya malah sampai Rp 9 jutaan, saya tidak punya uang,” ungkap Rahayu kepada AJNN, Senin (7/3).

Di satu sisi, Rahayu mengaku senang dipindahkan karena perawatan di Zainoel Abidin jauh dari memadai. Selama masa perawatan, Imam tidak tidak dilayani dengan baik. Perawat hanya menunggu laporan dari Rahayu tentang Imam darinya.

“Ketika anak saya muntah darah, kotorannya juga keluar darah. Itu tidak diurus oleh perawat. Bahkan saya yang setiap saat mengecek suhu badan anak saya. Karena saya tidak mau kehilangan anak saya. Saya lihat mereka seperti tidak peduli,” kata Rahayu.

Imam tak lama dirawat di Elizabet. Imam dirujuk kembali ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta, dengan alasan, rumah sakit tidak memiliki alat yang lengkap untuk menangani penyakit tersebut. 

“Walaupun anak saya dirujuk kembali, dengan alasan tidak cukup alat tapi pelayanan di rumah sakit Elizabet seribu kali lipat bagus dari pada RSUDZA. Bukan saya ingin bandingkan. Di situ saya tidak sibuk urusi anak, susternya semua yang urus, mereka peduli dengan pasien,” ujar dia.

Keluarga itupun akhirnya memindahkan Imam ke Rumah Sakit Cipto MangunkusumoJakarta. Rahayu mengaku tidak memiliki biaya untuk menjalani kehidupan dan membayar pengobatan untuk anaknya selama di Jakarta.

Rahayu mengatakan berutang banyak, terutama untuk membayar obat suntik kesadaran. “Namun saya putuskan untuk membawa pulang anak saya karena tidak ada uang lagi. KTP dan KK saya juga tinggal di rumah sakit sebagai jaminan,” ungkap dia.

Ongkos dari Jakarta ke Medan didapat Rahayu dari sumbangan seorang keluarga pasien yang sekamar dengan ruang Imam.

"Sampai di Medan saya tidak lagi uang sedikit pun. Sudah dua hari saya di Medan tempat teman saya dan dia juga kurang mampu. Saya ingin obati anak saya di kampung saja, utang saya di Jakarta saya tidak tahu bagaimana (melunasinya),” kata Rahayu.

Komentar

Loading...