Unduh Aplikasi

Pasal Karet untuk Saiful Mahdi

Pasal Karet untuk Saiful Mahdi
Ilustrasi: liputan 6

VONIS terhadap Saiful Mahdi adalah sebuah keprihatinan. Dosen fakultas teknik di salah satu universitas ternama di Aceh itu terjerat pasal pencemaran nama baik yang atas kritiknya dalam sebuah grup percakapan di aplikasi whatsapp dan dihukum penjara tiga bulan serta denda Rp 10 juta.

Kasus ini bergulir setelah Saiful menuliskan pesan yang mengkritik proses perekrutan calon dosen di tempatnya bekerja. Kritik ini lantas dianggap sebagai bentuk penghinaan.

Atas kritik itu, Saiful didakwa dengan pasal 27 ayat (3) Jo Pasal 45 ayat (3) Undang-undang Republik Indonesia nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Di era keterbukaan saat ini, harusnya kritik Saiful tidak dianggap sebagai pencemaran nama baik. Saat polisi menerima pengaduan tentang tulisan Saiful, misalnya, kepolisian harusnya membuktikan apakah kritik itu benar atau fitnah sebelum memutuskan menerima pengaduan tersebut.

Di lingkungan keilmuan, kritik harusnya jadi instrumen yang memotivasi setiap insan di dalamnya menjadi lebih baik dalam membangun institusi. Kritik juga harusnya jadi alat untuk mendidik mahasiswa. Dengan demikian, tak ada sikap semena-mena seorang dosen terhadap mahasiswa atau pejabat di kampus terhadap pekerjanya.

Memberangus sikap kritis di dalam kampus sangat berbahaya. Jika diteruskan, bukan tak mungkin kampus-kampus di negeri ini hanya akan melahirkan mahasiswa dan pendidik yang patuh dan mati rasa.

Kebebasan akademik harusnya mencakup kebebasan individu untuk mengekspresikan pendapat secara bebas tentang lembaga atau sistem tempat mereka mengabdi. Bukan malah memberangus.

Keputusan ini juga sangat bertentangan dengan keinginan pemerintah untuk membangun kemandirian sikap dan kemerdekaan berpikir dan bertindak di kampus. Mungkin sudah saatnya pemerintah mencabut aturan ini.

Komentar

Loading...