Unduh Aplikasi

Partai Lokal Mengekor Pola Kerja Partai Nasional

Partai Lokal Mengekor Pola Kerja Partai Nasional
Bendera partai politik di Aceh. Foto: www.kaskus.co.id
BANDA ACEH – Keberadaan partai politik lokal di Aceh dinilai belum memberikan warna baru bagi proses perpolitikan di Aceh. Partai lokal selama ini cenderung mengekor atau mengikuti pola yang dilakukan partai politik nasional.

“Tak ada hal baru yang mereka tawarkan kepada publik, selain cap lokal,” kata Koordinator Gerakan Anti Korupsi Aceh Askhalani Bin Muhammad Amin diskusi yang digelar Pusat Studi Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Andalas, di Banda Aceh, Rabu (27/4).

Askhalani mengatakan hal ini terlihat jelas dalam pola perekrutan calon anggota legislatif atau calon kepala daerah. Seharusnya, kata dia, partai lokal lebih elegan dalam merekrut dan tidak mengulang kegagalan partai nasional dalam memunculkan kader-kader berkualitas ke permukaan.

Askhalani juga mengkritik ketidakmampuan partai lokal mengintervensi kader yang duduk di legislatif untuk mendorong mereka bekerja lebih militan lagi. Menurut Askhalani, di awal munculnya partai-partai politik lokal di Aceh, masyarakat berharap mendapatkan produk politik berbeda dari yang ditawarkan partai nasional yang cenderung sentralistik.

Kehadiran partai lokal tak memberikan perubahan berarti selain komposisi kursi di legislatif yang memang lebih banyak diisi oleh politisi partai lokal. Jika pola kerja dan kaderisasi partai lokal ini tidak berubah, maka publik akan cenderung meninggalkan partai tersebut dan berlalih kepada partai nasional.

“Roh dari MoU Helsinki berharap partai lokal di Aceh bisa mewarnai isu isu penegakan demokrasi yang baru dalam basis politik nasional,” ucap Askhalani.

Senada Askhkalani, dosen politik Universitas Paramadina, Djayadi Hanan, menilai Partai lokal di Aceh berfungsi seperti umumnya partai nasional. Secara umum, kata dia, tidak ada perbedaan antara keduanya.

Partai lokal dan nasional, kata Djayadi, harus segera membenahi sejumlah aspek, seperti transparansi dan pola perekrutan calon kepala daerah maupun untuk legislatif yang tidak memiliki akses publik. Selama ini yang membedakan partai lokal itu betul betul menjadi alat bagi masyarakat lokal untuk mengakses kekuasaan, jabatan publik atau jabatan politik yang memang dibutuhkan oleh masyarakat.

“Kalau di partai nasional sangat mungkin orang daerah lain yang tidak dikenal malah menjadi penguasa, jadi kalau di Aceh saya kira itu salah satu hal keunggulan dari keberadaan partai lokal,” ujarnya.

Komentar

Loading...