Unduh Aplikasi

Pareto 80/20

Pareto 80/20
Ari Maulana. Foto: For AJNN

Oleh: Ari Maulana

DULU, pada semester awal kuliah tahun 1994 di Fakultas Hukum. Seingat saya, pada mata kuliah pengantar ilmu ekonomi, saya pernah mendengar tentang teori ini. Teori Pareto 80/20. Dan seperti biasa, saya tidak mengerti sama sekali.

Awal Maret 2020 lalu, dalam suatu event Executive Gathering yang diselengarakan oleh PTPN Group di Jogjakarta, saya kembali mendengar tentang teori ini. Disampaikan oleh Wadirut Holding PTPN Group, Denaldy Mauna dengan ringkas.

Dalam penjelasannya yang ringkas disertai contoh - contoh konkrit, saya akhirnya mulai sedikit paham dengan konsep ini. Denaldy menceritakan pengalamannya ketika membenahi suatu perusahaan milik negara yang terus menerus mengalami kerugian dengan menggunakan konsep ini. Hanya dalam tempo 2 tahun perusahaannya kembali sehat. Merasa tertarik, saya mencoba mencari tahu lebih jauh tentang konsep ini.

Bersyukur bahwa saya dapat merasakan era open knowledge dengan teknologi informasi canggih dimasa sekarang ini. Dengan mudah saya menemukan kembali penjelasan dari konsep Pareto 80/20 di dunia maya. Teori ini dikembangkan oleh seorang pakar manajemen bisnis Amerika, Josep M. Juran pada tahun 1941 dengan merujuk pada teori dari ekonom Italia, Vilfredo Pareto.

Pada tahun 1906, Pareto mengamati bahwa 80 persen dari pendapatan di Italia dimiliki oleh hanya 20 persen dari jumlah populasi di Italia. Pareto percaya bahwa sebenarnya pola relasi hidup manusia itu terjadi dalam skala perbandingan 80 : 20.

Teori (konsep) ini kemudian dikembangkan dan diterapkan pada manajemen bisnis oleh Joseph M Juran yang menjelaskan bahwa 80 persen masalah itu timbul (hanya) dari 20 persen penyebabnya. Konsep ini digunakan sebagai alat untuk memetakan akar (penyebab) dari masalah yang timbul dalam suatu manajemen operasi.

Penekanannya pada fokus penyebab masalah dan prioritas penyelesaian masalah. Berangkat dari logika matematis bahwa sebenarnya 80 persen masalah yang timbul itu adalah merupakan reaksi dari hanya 20 persen aksi penyebabnya. Lebih jauh konsep ini diyakini dapat menjelaskan pola relasi dalam semua aspek kehidupan. Sepertinya mulai rumit bagi saya memahaminya.

Dalam manajemen bisnis modern, konsep ini sering diterapkan. Perusahaan - perusahaan besar saat ini tidak lagi memfokuskan pada seberapa besar omset penjualan dari hasil produksinya. Mereka merubah cara pandang dengan mengacu pada konsep ini mengingat persaingan yang semakin ketat.

Perubahan difokuskan pada proses bisnis (mata rantai produksi khususnya) dengan melakukan efisiensi sebanyak mungkin. Mata rantai produksi yang dianggap tidak terlalu penting dipangkas semaksimal mungkin dengan tujuan penghematan waktu, tenaga dan biaya produksi. Percuma produksi tinggi namun tidak efisien. Pointnya adalah bagaimana hanya dengan menggunakan 20 persen sumber daya yang ada, perusahaan dapat menghasilkan 80 persen output yang diharapkan.

Saya jadi teringat ketika melakukan perjalanan dengan menggunakan penerbangan maskapai Garuda sekitar 24 tahun yang lalu. Waktu itu masih berlaku tiket kertas yang isinya beberapa lembar. Proses pembeliannya juga harus dilakukan dengan mendatangi langsung Kantor perwakilan atau agen resmi penjualan.

Dan minimal harus 1- 2 hari sebelumnya untuk pemesanannya (kalau saya tidak salah ingat). Dari sisi pelayanan, pada menu yang dihidangkan dalam penerbangan, Garuda menyajikan menu yang cukup mewah dengan menyediakan mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama hingga hidangan penutup untuk pencuci mulut dalam tatakan yang cukup menawan bagi penumpang dikelas ekonomi. Dus tisu basah sebagai penyeka mulut dan tangan. Hal - hal yang kemudian tidak saya rasakan lagi sekarang sebagai penumpang kelas ekonomi.

Perubahan di Garuda, saya kira erat kaitannya dengan konsep pareto 80/20 ini. Mungkin saja Garuda telah melihat dan mengevaluasi, sistim tiketing dan penjualannya, menu hidangan dan kompliment lainnya adalah hal - hal yang masuk dalam kategori 20 persen penyebab dan menjadi bagian dari 80 persen masalah pemborosan dalam proses bisnis nya.

Toh yang paling utama diperlukan oleh semua pihak adalah penerbangan yang aman, tepat waktu, dan tentu saja terjangkau secara ekonomis. Faktanya, sekarang ini setiap bepergian dengan Garuda, saya masih tetap merasakan rasa aman dan nyaman sebagai penumpang kelas ekonomi dengan segala 'kemewahan' yang hilang dari masa sebelumnya.

Kembali lagi ke konsep Pareto. Saya masih mencoba memahaminya dengan keterbatasan daya nalar saya. Hingga saya menghadapi masalah pada pompa air dirumah dalam masa social distancing ini. Sudah beberapa bulan sebelumnya pompa air elektrik dirumah tidak dapat berfungsi secara otomatik.

Pompa terus menyala sekalipun keran air telah ditutup. Sesekali memang masih bisa berfungsi normal. Namun sering kali pompa air menyala sepanjang malam. Keadaan ini tentu saja menjadi suatu gangguan dalam kehidupan saya. Terbangun setiap malam hanya untuk memutuskan aliran listrik pompa air secara manual. Kegiatan memasak dan mencuci juga menjadi lebih ribet.

Selain itu saya amati juga bahwa biaya listrik bulanan sepertinya bertambah. Biasanya saya melakukan sedikit perbaikan dengan menyetel ulang (per pengatur tekanan saklar otomatis) menggunakan obeng. Metode ini bisa berhasil untuk sementara waktu.

Hingga pada suatu ketika, pompa air saya menyala kencang dalam waktu lama. Ketika saya cek, ternyata selang pipa sambungannya telah lepas dan airnya tumpah ruah. Terpikir untuk mencari tukang yang bisa memperbaikinya. Masalahnya tentu menjadi riskan dalam situasi seperti sekarang ini. Juga belum tentu tukangnya bisa segera datang.

Akhirnya saya coba untuk memperbaikinya sendiri. Berbekal informasi teknis di Youtube, saya mencoba memperbaikinya. Dengan mengacu pada prinsip kerjanya. Saya ingin melakukan perbaikan dengan menelusuri penyebab masalahnya. Ternyata masalahnya sangat sepele.

Ada kebocoran pada sambungan antar pipa pada saluran outlet (saluran keluar). Kebocoran ini terjadi karena proses penyambungan sebelumnya dilakukan secara tergesa - gesa (tanpa menunggu lemnya agak sedikit kering). Akibatnya Boha. Bocor Halus. Ada rembesan air yang jika kita perhatikan sekilas tidak akan kelihatan.

Namun akan terlihat dalam waktu lama. Sebagian mesin pompa berkarat dan saluran pipa menjadi berlumut. Terlihat sangat jorok. Tapi berdampak cukup besar. Kebocoran ini menyebabkan tekanan air yang mengontrol saklar otomatik pompa tidak bisa bekerja normal. Sekalipun kita menyetelnya berulang - rulang. Inilah penyebab kecil gangguan yang saya alami selama ini. Sepele. Setelah melakukan perbaikan kecil, pompa saya akhirnya berfungsi normal lagi.

Disinilah sebenarnya saya mulai paham dan yakin dengan konsep Pareto 80 : 20. Masalah - masalah besar sering timbul dari penyebab yang sebenarnya bisa jadi kecil saja (sepele). Konsep Pareto bisa dijadikan sebagai salah satu metode untuk memetakan akar penyebabnya.

Sepertinya konsep ini cocok bagi seorang pemalas seperti saya. Cocok bagi orang yang suka berpikir dan bertindak praktis. Saya kenal beberapa kawan yang jika saya amati perilakunya (sepertinya) cenderung menggunakan konsep ini dalam mengatasi masalah.

Penulis adalah Komisaris PTPN 1 Langsa

Komentar

Loading...